Ada satu momen kecil yang masih saya ingat dengan jelas. Suatu sore, ketika
kami sedang duduk di ruang keluarga, anak pertama saya yang waktu itu
berusia delapan tahun bertanya dengan polos,
“Yah, kenapa uang bisa habis kalau kita pakai terus?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menggetarkan. Di balik rasa ingin tahunya,
saya melihat tanda-tanda kesadaran baru — tentang nilai, tentang waktu, dan
tentang tanggung jawab.
Sejak hari itu, saya mulai berpikir: mungkin inilah saat yang tepat untuk
mengenalkan konsep
menabung dan berinvestasi dengan cara
yang menyenangkan, tanpa tekanan, dan sesuai dengan dunia mereka.
 |
| Menabung Bitcoin |
Dari Celengan ke Dunia Digital
Anak-anak saya tumbuh di zaman yang sangat berbeda dari masa kecil saya.
Uang tidak lagi hanya berbentuk kertas dan koin; dunia kini mengenal nilai
digital — termasuk aset seperti Bitcoin.
Sebagai orang tua yang hidup dan bekerja di lingkungan Kampung Inggris,
Pare-Dise, saya terbiasa melihat bagaimana anak-anak muda belajar
menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia. Maka, saya merasa penting juga
bagi anak-anak saya memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk hiburan, tapi
juga bisa menjadi sarana membangun masa depan.
Awalnya, kami tetap mulai dari yang paling klasik:
celengan kecil berbentuk kucing. Setiap kali mereka
menerima uang saku, hadiah, atau uang hasil membantu pekerjaan kecil di
rumah, kami ajarkan untuk menyisihkan sebagian. Tapi setelah beberapa waktu,
saya ingin mereka melihat gambaran yang lebih luas — bagaimana nilai uang
bisa “bekerja,” bukan sekadar disimpan.
Maka saya perkenalkan sesuatu yang baru bagi mereka:
menabung Bitcoin. Bukan sebagai cara cepat kaya, tapi
sebagai sarana belajar tentang
kesabaran, nilai, dan visi jangka panjang.
Belajar tentang Nilai dan Waktu
Kami memulai dengan sangat sederhana. Anak pertama saya memiliki dompet
digital mini (wallet) di bawah pengawasan saya. Setiap kali menabung, ia
mencatat jumlahnya di buku kecil — seperti jurnal keuangan versi anak-anak.
Kadang ia tanya,
“Yah, kenapa nilainya naik-turun terus?”
Saya jawab dengan tenang,
“Karena dunia berubah setiap hari. Sama seperti kamu belajar — kadang
semangat, kadang lelah. Tapi yang penting bukan naik-turunnya, melainkan
terus berproses.”
Melalui percakapan semacam itu, saya ingin ia memahami bahwa investasi bukan
sekadar tentang uang yang bertambah, tapi tentang
waktu yang bekerja untukmu. Bahwa sabar dan konsisten jauh
lebih penting daripada cepat dan impulsif.
Anak kedua, meski baru dua tahun, sering ikut mengulang kata “bitkoin”
dengan suara cadelnya. Ia belum paham, tentu saja. Tapi bagi saya, mendengar
itu saja sudah menjadi tanda bahwa kebiasaan baik sedang berakar
pelan-pelan.
Menanamkan Tanggung Jawab
Saya percaya, mengenalkan investasi sejak dini bukan soal nominal, tapi soal
mindset.
Kami tidak pernah menjanjikan hasil besar atau membicarakan harga pasar.
Yang kami tanamkan adalah rasa
tanggung jawab terhadap keputusan.
Saat anak saya memutuskan untuk menabung, ia tahu itu berarti menunda
kesenangan kecil hari ini — tidak membeli mainan, tidak jajan berlebihan —
demi sesuatu yang lebih besar nanti.
Itu bukan tentang uang semata, tapi tentang
melatih kendali diri dan berpikir jauh ke depan.
Saya sering mengatakan kepadanya,
“Investasi bukan soal kamu punya berapa, tapi soal kamu bisa menunggu berapa
lama.”
Dan setiap kali ia tersenyum paham, saya tahu satu hal — nilai itu mulai
tertanam.
Dari Nilai Finansial ke Nilai Hidup
Ada keterkaitan erat antara pendidikan finansial dan pendidikan karakter.
Dari menabung, anak belajar menunda keinginan. Dari investasi,
mereka belajar memahami risiko. Dan dari perubahan nilai Bitcoin
yang fluktuatif, mereka belajar bahwa
hidup pun tidak selalu stabil.
Nilai-nilai ini sejatinya sama dengan apa yang saya tulis dalam artikel
“Mendidik Anak di Era Digital.” Bahwa pendidikan sejati bukan
hanya soal akademik, tapi soal
membangun karakter dan ketahanan mental.Anak-anak yang mampu mengelola uangnya dengan bijak, biasanya juga mampu
mengelola dirinya dengan tenang.
Peran Orang Tua: Bukan Sekadar Pengamat
Saya tidak ingin anak-anak hanya mendengar nasihat tentang uang —
saya ingin mereka melihat bagaimana uang dikelola dengan bijak.
Maka saya melibatkan mereka dalam hal-hal sederhana: mencatat pengeluaran,
membuat rencana tabungan, hingga berdiskusi tentang apa yang bisa dilakukan
jika harga aset turun.
Bagi saya, orang tua bukan hanya pemberi aturan, tapi
role model finansial pertama dalam hidup anak.
Anak-anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari bagaimana kita
hidup.
Jika mereka melihat kita disiplin menabung, bijak mengelola pengeluaran, dan
tidak panik saat menghadapi ketidakpastian — mereka akan meniru hal yang
sama, tanpa perlu diminta.
Menanamkan Visi Jangka Panjang
Salah satu alasan saya mengenalkan Bitcoin bukan karena teknologinya semata,
tetapi karena ia mengandung filosofi waktu dan kepercayaan.
Bitcoin tidak bisa dihasilkan dalam semalam, dan nilainya baru terasa
setelah bertahun-tahun. Konsep ini selaras dengan nilai yang saya ingin
tanamkan pada anak-anak: bahwa hal-hal berharga tidak datang cepat.
Mereka boleh bercita-cita menjadi pebisnis atau investor, tapi yang lebih
penting adalah
bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk sabar, konsisten, dan beretika
dalam perjalanan itu.
Saya selalu mengatakan,
“Jadilah orang yang tidak hanya pandai mencari uang, tapi juga pandai
menjaga nilainya — di dompet maupun di hati.”
Kini, setiap kali anak saya membuka aplikasi wallet-nya dan melihat nominal
yang berubah, saya tahu bahwa ia sedang belajar tentang sesuatu yang jauh
lebih penting daripada uang —
tentang nilai, waktu, dan tanggung jawab.
Karena bagi saya, menabung Bitcoin hanyalah pintu kecil menuju pelajaran
besar:
bahwa dalam hidup, yang membuat kita bertumbuh bukanlah seberapa banyak yang
kita punya,
melainkan seberapa dalam kita memahami arti dari
memiliki dan menjaga.
Gabung dalam percakapan