Cita-Cita dan Goal Setting untuk Anak
Menumbuhkan mimpi sejak dini, tanpa kehilangan masa kanak-kanak.
Sejak kecil, anak-anak saya sudah akrab dengan kata “cita-cita.” Bukan karena saya ingin mereka tumbuh terburu-buru, tapi karena saya percaya bahwa mimpi adalah bahan bakar kehidupan.
Saya tidak ingin mereka hanya hidup mengikuti arus, tapi punya arah — meski arah itu nanti bisa berubah seiring waktu.
Mungkin ini berawal dari kebiasaan kami di rumah.
Setiap kali makan malam, saya sering mengajak mereka berbicara tentang hari ini dan tentang “besok.”
Percakapan sederhana seperti,
“Kalau nanti sudah besar, kamu mau jadi apa?”selalu memunculkan senyum dan imajinasi yang tak pernah sama.
Anak pertama saya menjawab dengan yakin,
“Aku ingin sukses di bidang bisnis.”Sementara adiknya — yang baru berusia dua tahun — sering menirukan kata “investasi,” meski belum tahu artinya.Lucu memang, tapi bagi saya, kata-kata adalah benih, dan benih itu akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita siram setiap hari.
Cita-Cita Bukan Tekanan
Saya tidak ingin anak-anak saya berpikir bahwa cita-cita adalah beban.
Cita-cita bukan daftar tugas yang harus dicapai, tapi
peta arah yang membantu mereka melangkah.
Karena itu, saya tidak pernah memaksakan pilihan.
Saya hanya berusaha membuka ruang untuk mereka mengenal berbagai hal — seni,
bisnis, teknologi, hingga dunia keuangan digital.
Sebagai pengelola lembaga Pare-Dise di Kampung Inggris, saya
sering mempertemukan mereka dengan berbagai orang: siswa, guru, dan tamu dari
beragam latar belakang.
Anak saya melihat banyak versi kesuksesan — bukan hanya lewat nilai atau
jabatan, tapi lewat semangat belajar, kerja keras, dan keberanian memulai
sesuatu.
Dari situ, ia belajar bahwa kesuksesan punya banyak bentuk, dan bahwa setiap orang berhak menemukan versinya sendiri.
Mengenalkan Konsep “Goal Setting” Sejak Dini
Di usia sepuluh tahun, anak pertama saya sudah mulai belajar tentang perencanaan jangka pendek dan panjang, meski dengan bahasa yang sederhana.
Kami sering membuat daftar kecil berjudul “Things I Want to Do This Week.”
Isinya bisa sesederhana:
- Menyelesaikan buku cerita baru
- Membuat kue bersama ibu
- Menabung untuk beli mainan kecil
Bagi saya, latihan kecil ini adalah bentuk awal dari goal setting — mengajarkan anak untuk berpikir ke depan, mengenali keinginan, dan melatih disiplin.
Saya ingin ia memahami bahwa hasil bukanlah segalanya, tapi proses mencapainya adalah bagian penting dari pertumbuhan.
Dari Mimpi ke Tanggung Jawab
Ketika anak pertama saya bilang ingin sukses di bidang bisnis, saya tidak langsung menjelaskan tentang modal atau strategi.
Saya justru bertanya,
“Menurutmu, orang yang sukses di bisnis itu seperti apa?”
Jawabannya sederhana, tapi mengena:
“Rajin, jujur, dan nggak gampang menyerah.”Jawaban itu mengingatkan saya, bahwa nilai-nilai dasar lebih penting daripada pengetahuan teknis.Karena bisnis, seperti hidup, adalah tentang karakter.Dan karakter dibentuk lewat kebiasaan kecil setiap hari — seperti menepati janji, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.
Untuk adiknya, yang masih kecil, kami mulai dengan cara yang berbeda.
Ia belum bisa menetapkan tujuan, tapi kami mengenalkannya pada konsep “menunggu,” “menyimpan,” dan “menabung.”
Nilai-nilai kecil ini adalah fondasi bagi kemampuan besar nanti: mengelola diri.
Tentang Menabung dan Investasi
Dari percakapan tentang cita-cita itu, kami juga mulai mengenalkan anak-anak pada dunia keuangan.
Kami bahkan membuatkan mereka tabungan crypto kecil, khususnya Bitcoin, bukan karena nominalnya besar, tapi karena nilai simboliknya.
Menabung bukan hanya soal uang — tapi soal waktu, kesabaran, dan visi jangka panjang.
Saya ingin mereka paham bahwa setiap keputusan hari ini punya dampak di masa depan.
Setiap kali harga Bitcoin naik atau turun, anak pertama saya sering bertanya,
“Ayah, kenapa bisa berubah?”Pertanyaan itu membuka ruang diskusi yang luas: tentang ekonomi, tentang nilai, tentang kesabaran.Dan saya sadar, inilah bentuk belajar yang paling alami — belajar yang lahir dari rasa ingin tahu, bukan dari kewajiban.
Cita-Cita yang Tumbuh Bersama Nilai
Cita-cita tanpa nilai hanya akan menjadi ambisi kosong. Karena itu, saya dan istri selalu berusaha menanamkan makna di balik setiap tujuan.
Kalau anak ingin sukses, kami ajak ia berpikir: sukses itu untuk siapa? untuk apa? Apakah hanya untuk dirinya sendiri, atau juga bermanfaat bagi orang lain?
Kami ingin mereka paham bahwa tujuan hidup bukan sekadar pencapaian pribadi, tapi kontribusi.
Bahwa bekerja keras itu baik, tapi membantu orang lain juga bagian dari kesuksesan sejati.
Dan bahwa uang penting, tapi integritas lebih penting.
Mimpi yang Berjalan Bersama Waktu
Anak-anak saya masih kecil, dan saya tahu mimpi mereka mungkin akan berubah seiring waktu.
Tapi itu tidak masalah.
Yang penting bukan seberapa cepat mereka mencapainya, tapi seberapa tulus mereka berusaha memahami diri sendiri di sepanjang jalan.
Karena mendidik anak bukan soal menyiapkan masa depan mereka saja, tapi juga tentang mendampingi proses mereka menemukan arah hidupnya sendiri.
Dan dalam setiap proses itu, saya pun belajar:
bahwa cita-cita anak sebenarnya adalah cermin dari harapan orang tua — harapan bahwa mereka tumbuh menjadi manusia yang utuh, jujur, dan bahagia.

Gabung dalam percakapan