Mengenalkan Bahasa Inggris Sejak Dini: Belajar Tanpa Tekanan
Cerita tentang bagaimana anak tumbuh mencintai bahasa, bukan takut padanya.
Saya selalu percaya bahwa cara terbaik mengenalkan bahasa asing kepada anak bukan lewat hafalan, tapi lewat kebiasaan.
Dan saya cukup beruntung karena hidup di lingkungan yang memungkinkan hal itu terjadi secara alami.
Sebagai pengelola lembaga kursus Pare-Dise di Kampung Inggris, saya setiap hari dikelilingi oleh suasana belajar bahasa — dari percakapan guru dan siswa di kelas, hingga obrolan santai di halaman.
Anak pertama saya sudah akrab dengan bahasa Inggris sejak kecil.
Ia tumbuh di antara tawa para siswa, suara guru memberi arahan, dan papan tulis yang dipenuhi kata-kata dalam bahasa asing.
Tanpa saya sadari, lingkungan itu menjadi kelas pertamanya, dan para guru di Pare-Dise menjadi teman belajarnya yang paling awal.
![]() |
| Belajar dengan Riang |
Belajar dari Lingkungan yang Hidup
Saya tidak pernah secara khusus “mengajar” anak saya bahasa Inggris.
Ia belajar dengan caranya sendiri — melalui mendengar, meniru, dan bermain.
Kadang saat berjalan di sekitar area Pare-Dise, ia menyapa siswa dengan,
“Good morning, how are you?”dan mereka menjawab dengan semangat,“I’m good! How about you?”
Interaksi sederhana seperti itu membuatnya percaya diri.
Ia tidak melihat bahasa Inggris sebagai pelajaran yang harus dikuasai, tapi sebagai alat untuk berkomunikasi — sesuatu yang hidup dan menyenangkan.
Saya pikir, itulah bedanya belajar lewat pengalaman dengan belajar lewat tekanan.
Belajar Tanpa Tekanan
Saya tidak ingin anak saya belajar karena takut nilai jelek.
Saya ingin ia belajar karena ingin tahu.
Karena itu, kami berusaha menciptakan suasana yang ringan dan penuh dukungan.
Kalau ia salah mengucapkan sesuatu, saya tidak langsung membetulkan.
Saya biasanya tersenyum dan menjawab dalam konteks yang sama — agar ia tahu bahwa tujuan utama bahasa adalah berkomunikasi, bukan sempurna secara gramatikal.
Di rumah, kami sering bercanda dalam bahasa Inggris, bermain peran sebagai guru dan siswa, atau sekadar menonton film tanpa teks.
Kadang ia meniru gaya bicara guru di Pare-Dise dengan ekspresi yang lucu — dan kami semua tertawa.
Dari situ saya tahu, belajar bisa tetap serius tanpa kehilangan rasa gembira.
Pendidikan yang Tumbuh dari Minat
Anak saya menyukai bahasa sejak dini, mungkin karena ia melihat saya setiap hari berbicara dengan para pengajar dan siswa dari berbagai daerah.
Ia penasaran, ingin tahu, dan lama-kelamaan mulai ikut menulis kata-kata di papan tulis kecilnya sendiri.
Saya tidak pernah memaksanya.
Yang saya lakukan hanyalah menyediakan ruang dan waktu — karena saya percaya, minat tidak bisa dipaksa, tapi bisa dipupuk.
Kebiasaan inilah yang kemudian kami teruskan melalui pola homeschooling yang berpadu dengan sekolah formal.
Sekolah memberi struktur, sementara di rumah dan di lingkungan Pare-Dise, ia mendapatkan ruang eksplorasi yang bebas untuk mengembangkan bahasa Inggrisnya dengan cara yang ia sukai.
Kadang lewat permainan, kadang lewat lagu, kadang lewat percakapan ringan dengan para siswa yang sedang belajar.
Belajar Bersama, Bukan Sendiri
Saya juga belajar banyak dari proses ini.
Sebagai orang tua, saya menyadari bahwa anak-anak bukan hanya penerima ilmu, tapi juga pengingat tentang cara belajar yang sejati.
Mereka belajar dengan rasa ingin tahu, bukan dengan ambisi.
Dan sering kali, kita yang justru perlu meniru mereka.
Ketika saya melihat anak saya berbicara spontan dalam bahasa Inggris, saya tidak hanya bangga — saya juga terharu.
Karena di balik setiap kata yang ia ucapkan, ada kebersamaan, ada cerita, dan ada proses panjang yang tidak dipaksakan.
Ia belajar karena lingkungan mendukungnya, bukan karena saya menuntutnya.
Dalam artikel sebelumnya, “Belajar Ulang Menjadi Orang Tua”, saya menulis bahwa anak adalah cermin orang tua. Kini, melalui proses belajar bahasa Inggris ini, saya semakin yakin:
Tugas orang tua bukan membuat anak bisa, tapi membuat mereka mau belajar.
Sementara pada artikel lainnya “Mendidik Anak di Era Digital”, saya membahas pentingnya menuntun, bukan sekadar mengarahkan.
Kisah kali ini adalah bentuk nyata dari prinsip itu — bagaimana kami menuntun anak untuk mencintai bahasa tanpa merasa terbebani oleh hasil.
Penutup: Belajar yang Tumbuh Bersama Cinta
Anak saya tumbuh di lingkungan di mana bahasa Inggris bukan sekadar pelajaran, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dan saya melihat sendiri bagaimana rasa ingin tahu bisa berkembang menjadi kebiasaan, lalu menjadi kepercayaan diri.
Mengenalkan bahasa Inggris sejak dini bukan soal target usia atau kurikulum.
Ini tentang menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman, diterima, dan dihargai.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya belajar kata-kata — mereka belajar tentang dunia, dan tentang cara mereka berinteraksi di dalamnya.
Dan di situlah saya menyadari satu hal:
Belajar bahasa adalah belajar memahami manusia.Dan itu, seperti menjadi orang tua, adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti.

Gabung dalam percakapan