IPM dan Rasa yang Tidak Pernah Pergi

Ada organisasi yang selesai bersamaan dengan seragam yang kita gantung. Ada pula yang tetap tinggal, meski kita sudah lama tidak berada di dalamnya.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah, bagi saya, termasuk yang kedua.

Saya berasal dari generasi yang mengenalnya dengan nama berbeda. Dulu, ketika masih duduk di bangku MTs Muhammadiyah 07 Takerharjo, organisasi ini kami sebut IRM: Ikatan Remaja Muhammadiyah. Nama itu melekat bukan karena singkatannya, tetapi karena pengalaman yang menyertainya. Bukan karena sejarah resminya, tetapi karena peran kecil yang pernah kami jalani di dalamnya.

Hari ini, IPM telah lama berjalan dengan namanya sendiri. Perubahan IRM menjadi IPM sudah ditetapkan sejak 28 Oktober 2008. Itu fakta sejarah. Dan saya menuliskan ini dengan kesadaran penuh akan jarak waktu itu bahwa refleksi ini bukan tentang perubahan nama, melainkan tentang perubahan posisi saya sebagai manusia yang pernah berada di dalamnya, dan kini berdiri di luar lingkaran.

IRM, bagi kami waktu itu, adalah ruang belajar yang jauh dari kata rapi. Rapat sering kali lebih panjang dari kesimpulannya. Program kerja tidak selalu sejalan dengan kemampuan. Kami belum pandai berbicara tentang visi besar. Tetapi di sanalah kami belajar hal-hal yang tidak tercatat di modul mana pun: mendengar pendapat yang tidak kita sukai, menerima keputusan yang tidak sepenuhnya kita setujui, dan tetap hadir meski tidak selalu merasa penting.

Ketika nama itu berubah menjadi IPM, saya melihatnya sebagai penanda fase. Dari “remaja” ke “pelajar”. Dari sekadar bertumbuh ke mulai diarahkan. IPM terasa lebih sistematis, lebih tertata, lebih sadar struktur. Ada jenjang kaderisasi, ada istilah yang terdengar semakin dewasa. Tetapi ruhnya setidaknya bagi saya tidak berubah: mendidik melalui proses, bukan hasil instan.

Waktu terus berjalan. Generasi berganti. Saya tidak lagi berada di sana. Kehidupan membawa saya ke peran-peran lain, ke tanggung jawab yang berbeda. Namun IPM tetap berjalan, dengan dinamika yang mungkin tidak lagi saya pahami sepenuhnya. Dan justru dari jarak itulah rasa itu muncul kembali.

Beberapa waktu lalu, saya membaca kabar tentang terpilihnya ketua umum baru PP IPM periode 2026–2028. Anehnya, yang pertama kali hadir bukan keingintahuan tentang siapa orangnya, dari mana asalnya, atau berapa banyak suara yang ia peroleh. Yang muncul justru kesadaran sederhana: organisasi ini masih hidup. Regenerasi tetap berjalan. Dan saya kini hanya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang pernah singgah di dalamnya.

Di titik ini, saya memilih untuk tidak menjadikan tokoh sebagai pusat cerita. Bukan karena peran itu tidak penting, tetapi karena IPM tidak pernah hidup dari satu nama. Ia bertahan karena pengalaman yang diwariskan, nilai yang terus diperdebatkan, dan proses yang kadang melelahkan namun tetap dijalani.

IPM tidak menjanjikan kenyamanan. Ia sering gaduh. Kadang terasa terlalu idealis. Tidak jarang menyisakan konflik dan kelelahan yang tidak selalu mendapat apresiasi. Tetapi justru di sanalah ia bekerja. IPM tidak mendidik pelajar untuk menjadi sempurna, melainkan untuk terbiasa berproses dengan segala ketidaksempurnaannya.

Saya belajar dari IPM bahwa kepemimpinan bukan soal suara paling keras, melainkan soal kesediaan hadir. Hadir ketika forum sepi. Hadir ketika hasil tidak seindah rencana. Hadir tanpa jaminan akan diingat. Pelajaran-pelajaran semacam ini tidak selalu terasa penting saat dijalani, tetapi menjadi bekal diam-diam ketika kita memasuki kehidupan yang lebih luas.

Mungkin itulah yang membuat IPM bertahan lintas generasi. Ia tidak menggantungkan hidupnya pada figur. Ia hidup dari proses. Dari kader-kader yang datang dan pergi, dari perdebatan yang tidak selalu selesai, dari kesalahan-kesalahan kecil yang diulang dan perlahan diperbaiki.

Sebagai seseorang yang pernah berada di dalamnya, saya tidak berharap IPM menjadi sempurna. Saya justru berharap ia tetap jujur dengan wataknya: tetap kritis, tetap memberi ruang bagi perbedaan, tetap percaya bahwa pelajar perlu belajar memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.

Ucapan selamat yang terselip dalam tulisan ini, karena itu, bukan ditujukan kepada satu orang. Ia saya tujukan kepada sebuah perjalanan panjang. Kepada organisasi yang pernah membentuk saya dengan cara yang mungkin tidak saya sadari saat itu, dan kini masih terus membentuk generasi lain dengan caranya sendiri.

IPM, bagi saya, bukan sekadar nama organisasi. Ia adalah bagian dari cara saya memahami proses. Tentang waktu. Tentang peran yang datang dan pergi. Tentang bagaimana sesuatu yang pernah kita jalani dengan sederhana, ternyata meninggalkan bekas yang bertahan lama.

Dan mungkin, di situlah letak relevansinya hari ini.
Bukan pada seberapa baru peristiwanya,
melainkan pada bagaimana proses itu tetap bekerja, bahkan setelah kita tak lagi berada di dalamnya.