Belajar Bersama Anak: Tentang Orang Tua yang Tak Pernah Selesai Sekolah

Ada masa di mana saya pikir, menjadi orang tua berarti sudah selesai belajar. Bahwa setelah kita dewasa, bekerja, menikah, dan punya anak — kita tinggal mengajarkan semua yang kita tahu. Seolah peran orang tua adalah guru, dan anak hanyalah murid.

Namun waktu, dengan caranya yang lembut tapi tegas, pelan-pelan membalikkan keyakinan itu.

Kini saya tahu: menjadi orang tua bukan tentang mengajarkan, tapi tentang belajar bersama. Karena ternyata, anak-anaklah yang sering kali menjadi guru paling jujur — dan kehidupan merekalah ruang kelas tempat kita belajar ulang tentang sabar, cinta, dan arti tumbuh.
Belajar Bersama Anak
Belajar Bersama Anak

Sekolah yang Tak Pernah Usai

Tidak ada bel tanda masuk. Tidak ada rapor. Tapi setiap hari, ada pelajaran baru. Kadang tentang kesabaran, kadang tentang kejujuran, dan sering kali tentang menerima hal-hal kecil yang tidak bisa kita kendalikan.

Ketika anak pertama mulai beranjak besar dan semakin kritis bertanya tentang dunia, saya belajar bahwa menjawab bukan berarti memaksakan pendapat. Bahwa menjadi orang tua bukan soal siapa yang benar, tapi bagaimana bersama mencari kebenaran.

Dan ketika anak kedua mulai meniru cara saya berjalan, berbicara, bahkan bereaksi, saya belajar tentang tanggung jawab yang tak kasat mata: bahwa anak-anak tidak hanya mendengar, tapi merekam setiap gerak tubuh dan nada suara kita.

Sekolah ini tidak punya libur semester. Tapi justru di situlah indahnya — karena setiap hari, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.

Ketika Anak Mengajari Kita

Anak pertama saya, yang tumbuh di lingkungan Pare-Dise — lembaga kursus bahasa Inggris yang saya kelola di Kampung Inggris — sering membuat saya kagum. Ia belajar bahasa Inggris bukan karena dipaksa, tapi karena terbiasa mendengar percakapan para guru dan siswa di sekitar rumah.

Suatu kali, saat saya tampak kesal karena pekerjaan, ia berkata, “Ayah, take a deep breath. It’s okay.”
Saya tertawa, tapi di dalam hati, ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan. Anak yang dulu saya ajari berbicara, kini sedang mengingatkan saya untuk tenang.

Begitu juga si adik kecil — yang baru dua tahun tapi sudah tahu cara membuat suasana rumah kembali hangat dengan tawa kecilnya. Ia tidak memberi nasihat, tapi caranya mencintai hidup mengajarkan saya hal-hal yang tidak tertulis di buku manapun: bahwa bahagia itu sederhana, asal kita hadir sepenuhnya.

Menemukan Diri di Cermin Anak

Anak-anak, dengan segala kepolosannya, sering kali menjadi cermin jujur bagi orang tua. Ketika mereka mudah marah, saya bertanya: apakah saya juga begitu? Ketika mereka menunda-nunda, saya berpikir: dari siapa mereka belajar itu?

Dan ketika mereka penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, saya pun tersentuh — karena mungkin di sanalah saya dulu pernah berada, sebelum rutinitas membuat saya lupa rasanya ingin tahu.

Menjadi orang tua berarti berani melihat diri sendiri lewat mata anak-anak. Kadang menyakitkan, kadang menenangkan. Tapi selalu menyadarkan, bahwa pendidikan sejati dimulai dari diri — bukan dari nasihat, tapi dari keteladanan.

Belajar Menjadi Orang Tua yang Manusiawi

Saya tidak ingin menjadi orang tua yang sempurna. Saya hanya ingin menjadi orang tua yang mau belajar. Karena kesempurnaan justru sering menjauhkan kita dari anak-anak — membuat kita terlalu tinggi untuk dijangkau, terlalu kaku untuk dipeluk.

Ada kalanya saya salah. Ada kalanya saya terlalu keras. Tapi yang terpenting, saya belajar untuk minta maaf.
Sebab anak-anak tidak butuh sosok tanpa cela. Mereka butuh teladan yang nyata — orang tua yang jujur, yang bisa mengakui kesalahan, dan yang terus belajar untuk memperbaiki diri.

Dan bukankah itu inti dari semua pendidikan? Bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau tumbuh.

Filosofi Belajar Dua Arah

Saya semakin yakin, bahwa mendidik anak bukan sekadar tugas, tapi perjalanan spiritual — tentang menemukan makna menjadi manusia yang lebih baik.
Anak tumbuh dengan belajar dari kita, tapi kita pun tumbuh dengan belajar dari mereka.

Kita mengajarkan mereka cara menghadapi dunia, sementara mereka mengingatkan kita bagaimana menikmati dunia.
Kita membimbing mereka untuk menjadi mandiri, sementara mereka mengingatkan arti kebersamaan.
Kita menuntun mereka agar berani, sementara mereka mengajarkan bahwa kelembutan juga kekuatan.

Sebuah simbiosis indah yang tidak akan pernah berhenti, selama kita mau membuka hati.

Penutup: Orang Tua yang Tak Pernah Lulus

Kini saya percaya, orang tua sejati tidak pernah “lulus” dari sekolah kehidupan. Kita hanya naik kelas — dari bayi pertama yang kita gendong, ke anak remaja yang mulai mencari arah, hingga nanti ketika mereka menjadi orang tua juga.

Setiap tahap mengajarkan hal baru, dan setiap kesalahan membawa hikmah baru.
Tidak ada sertifikat, tidak ada wisuda. Tapi ada cinta yang semakin matang, ada kebijaksanaan yang perlahan tumbuh dari keseharian yang sederhana.

Jadi, kalau ada yang bertanya siapa guru terbaik dalam hidup saya, jawabannya mudah: anak-anak saya.
Karena dari merekalah saya belajar bahwa menjadi orang tua bukan tentang mendidik dengan sempurna, tapi tentang bertumbuh bersama dengan sepenuh hati.