Belajar Bersama Anak: Tentang Orang Tua yang Tak Pernah Selesai Sekolah
Ada masa di mana saya pikir, menjadi orang tua berarti sudah selesai belajar. Bahwa setelah kita dewasa, bekerja, menikah, dan punya anak — kita tinggal mengajarkan semua yang kita tahu. Seolah peran orang tua adalah guru, dan anak hanyalah murid.
Namun waktu, dengan caranya yang lembut tapi tegas, pelan-pelan membalikkan keyakinan itu.
![]() |
| Belajar Bersama Anak |
Sekolah yang Tak Pernah Usai
Tidak ada bel tanda masuk. Tidak ada rapor. Tapi setiap hari, ada pelajaran baru. Kadang tentang kesabaran, kadang tentang kejujuran, dan sering kali tentang menerima hal-hal kecil yang tidak bisa kita kendalikan.
Ketika anak pertama mulai beranjak besar dan semakin kritis bertanya tentang dunia, saya belajar bahwa menjawab bukan berarti memaksakan pendapat. Bahwa menjadi orang tua bukan soal siapa yang benar, tapi bagaimana bersama mencari kebenaran.
Dan ketika anak kedua mulai meniru cara saya berjalan, berbicara, bahkan bereaksi, saya belajar tentang tanggung jawab yang tak kasat mata: bahwa anak-anak tidak hanya mendengar, tapi merekam setiap gerak tubuh dan nada suara kita.
Sekolah ini tidak punya libur semester. Tapi justru di situlah indahnya — karena setiap hari, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.
Ketika Anak Mengajari Kita
Anak pertama saya, yang tumbuh di lingkungan Pare-Dise — lembaga kursus bahasa Inggris yang saya kelola di Kampung Inggris — sering membuat saya kagum. Ia belajar bahasa Inggris bukan karena dipaksa, tapi karena terbiasa mendengar percakapan para guru dan siswa di sekitar rumah.
Begitu juga si adik kecil — yang baru dua tahun tapi sudah tahu cara membuat suasana rumah kembali hangat dengan tawa kecilnya. Ia tidak memberi nasihat, tapi caranya mencintai hidup mengajarkan saya hal-hal yang tidak tertulis di buku manapun: bahwa bahagia itu sederhana, asal kita hadir sepenuhnya.
Menemukan Diri di Cermin Anak
Anak-anak, dengan segala kepolosannya, sering kali menjadi cermin jujur bagi orang tua. Ketika mereka mudah marah, saya bertanya: apakah saya juga begitu? Ketika mereka menunda-nunda, saya berpikir: dari siapa mereka belajar itu?
Dan ketika mereka penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, saya pun tersentuh — karena mungkin di sanalah saya dulu pernah berada, sebelum rutinitas membuat saya lupa rasanya ingin tahu.
Menjadi orang tua berarti berani melihat diri sendiri lewat mata anak-anak. Kadang menyakitkan, kadang menenangkan. Tapi selalu menyadarkan, bahwa pendidikan sejati dimulai dari diri — bukan dari nasihat, tapi dari keteladanan.
Belajar Menjadi Orang Tua yang Manusiawi
Saya tidak ingin menjadi orang tua yang sempurna. Saya hanya ingin menjadi orang tua yang mau belajar. Karena kesempurnaan justru sering menjauhkan kita dari anak-anak — membuat kita terlalu tinggi untuk dijangkau, terlalu kaku untuk dipeluk.
Dan bukankah itu inti dari semua pendidikan? Bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau tumbuh.
Filosofi Belajar Dua Arah
Sebuah simbiosis indah yang tidak akan pernah berhenti, selama kita mau membuka hati.
Penutup: Orang Tua yang Tak Pernah Lulus
Kini saya percaya, orang tua sejati tidak pernah “lulus” dari sekolah kehidupan. Kita hanya naik kelas — dari bayi pertama yang kita gendong, ke anak remaja yang mulai mencari arah, hingga nanti ketika mereka menjadi orang tua juga.

Gabung dalam percakapan