Negara yang Tidak Pernah Bertanya pada Anak: Catatan Setelah Kepergian YBR

Ada kabar yang tidak seharusnya dibaca terburu-buru.
Bukan karena isinya rumit, tetapi karena dampaknya menetap lama di dada.
Kabar tentang seorang anak yang tak lagi ada, misalnya, bukan jenis berita yang selesai setelah digulir ke bawah layar.

Saya membaca, lalu berhenti.
Bukan untuk mencari detail, tapi karena tubuh seperti diminta diam sejenak.
Ada sesuatu yang keliru, dan rasanya bukan pada satu orang, satu sekolah, atau satu keluarga.
Ada yang lebih besar. Lebih sunyi. Lebih sistemik.

Seorang anak berusia sepuluh tahun tidak hidup dalam ruang kebijakan.
Ia tidak paham istilah anggaran, regulasi, atau kewenangan.
Yang ia pahami hanya rutinitas: berangkat sekolah, duduk di kelas, pulang, dan mencoba menjadi “anak baik” seperti yang diharapkan semua orang dewasa.

Di usia itu, anak seharusnya sibuk dengan rasa ingin tahu, bukan rasa takut.
Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya: ada anak yang tumbuh dengan beban yang bahkan orang dewasa pun sering mengeluhkannya.

Kita sering mengatakan pendidikan dasar itu gratis.
Kalimat itu diulang dalam pidato, dokumen, dan unggahan resmi.
Namun bagi sebagian anak, kata “gratis” tidak pernah benar-benar bermakna ringan.

Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya biaya.
Masalahnya adalah bagaimana sistem pendidikan kita memperlakukan anak yang tidak punya pilihan.

Negara hadir dengan aturan, tetapi lupa membangun ruang aman.
Sekolah berjalan dengan administrasi, tetapi gagap membaca bahasa diam anak.
Dan ketika sesuatu yang tak diinginkan terjadi, kita tergesa-gesa mencari kambing hitam, seolah tragedi ini adalah kecelakaan tunggal, bukan hasil dari proses panjang yang diabaikan.

Yang jarang kita tanyakan adalah:
kapan terakhir kali negara benar-benar mendengar suara anak?

Bukan suara anak di lomba pidato.
Bukan suara anak di iklan layanan masyarakat.
Melainkan suara anak yang pelan, ragu, dan tidak tahu harus bicara pada siapa.

Sebagai orang tua, saya tidak sedang menghitung angka.
Saya sedang mengukur jarak.
Jarak antara kebijakan dan kenyataan.
Jarak antara slogan dan pengalaman hidup anak-anak.

Negara memiliki data kemiskinan.
Negara tahu wilayah mana yang sulit, keluarga mana yang rentan.
Namun pengetahuan itu sering berhenti sebagai statistik, bukan empati.

Di sekolah, anak-anak diajarkan disiplin.
Namun siapa yang mengajarkan sistem untuk memahami keterbatasan?

Ketika seorang anak tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah, yang muncul sering kali bukan dialog, melainkan tekanan.
Bukan pertanyaan, melainkan perbandingan.
Bukan pendampingan, melainkan pengingat berulang tentang kewajiban.

Bagi orang dewasa, itu mungkin hal biasa.
Bagi anak, itu bisa terasa seperti dunia yang terus mengecil.

Kita lupa bahwa anak belum memiliki bahasa untuk menyebut lelahnya.
Ia hanya tahu bahwa ada ekspektasi yang harus dipenuhi, dan rasa malu ketika tidak sanggup.

Negara terlalu sering berbicara tentang akses, tetapi lupa soal rasa aman.
Padahal bagi anak, rasa aman adalah pintu masuk ke semua hal: belajar, bertanya, bahkan sekadar hadir di kelas tanpa takut.

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan satu pihak.
Tulisan ini bukan tuntutan hukum, bukan pula manifesto politik.
Ini adalah kegelisahan warga biasa yang menyadari satu hal sederhana:
jika sistem membuat anak merasa sendirian, maka sistem itulah yang harus dikoreksi.

Kita kerap mengatakan keluarga adalah benteng utama.
Namun negara tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik kalimat itu.
Ketika pendidikan diwajibkan, ketika sekolah menjadi ruang yang harus dimasuki semua anak, maka negara ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dalamnya.

Negara tidak cukup hanya memastikan anak hadir di kelas.
Negara harus memastikan anak aman berada di sana—secara fisik, sosial, dan emosional.

Yang sering luput adalah mekanisme mendengar.
Tidak ada sistem yang benar-benar dirancang untuk mendeteksi anak yang mulai tertekan.
Tidak ada ruang yang membuat anak yakin bahwa bertanya tidak akan berujung hukuman atau rasa malu.

Kita terlalu percaya bahwa anak akan selalu bicara jika ada masalah.
Padahal banyak anak memilih diam, bukan karena tidak punya masalah, tetapi karena tidak merasa aman untuk menyampaikannya.

Dalam banyak kasus, diam adalah bahasa terakhir anak.
Dan ketika bahasa itu tidak dibaca, kita baru bereaksi setelah semuanya terlambat.

Setiap kali tragedi terjadi, kita menyalakan lilin, menulis belasungkawa, lalu perlahan kembali ke rutinitas.
Sistem tetap sama.
Tekanan tetap berjalan.
Dan anak-anak lain kembali menyesuaikan diri dalam sunyi.

Ini bukan soal menyalahkan sekolah tertentu.
Ini soal mengakui bahwa negara terlalu lama menganggap ketahanan mental anak sebagai urusan pribadi, bukan tanggung jawab bersama.

Negara rajin mengukur capaian akademik,
namun jarang mengukur beban emosional.

Negara cepat mengoreksi nilai rapor,
tetapi lambat mendengar isyarat kelelahan.

Sebagai orang tua, saya tidak ingin hidup dalam ketakutan.
Namun saya juga tidak ingin hidup dalam ilusi bahwa semua baik-baik saja hanya karena tidak terdengar suara.

Tulisan ini adalah ajakan untuk berhenti menyederhanakan tragedi.
Bukan untuk membesarkan duka, tetapi untuk mencegahnya berulang.

Jika negara sungguh ingin hadir, maka kehadiran itu harus dimulai dari hal paling dasar:
bertanya, mendengar, dan percaya pada cerita anak.

Bukan setelah kejadian.
Bukan ketika sudah menjadi berita.
Melainkan sejak awal, saat anak masih ada di depan kita—pelan, ragu, menunggu ditanya.

Karena negara yang besar bukan yang paling keras berbicara,
melainkan yang paling serius mendengar.

Dan suara yang paling layak didengar,
adalah suara anak-anaknya sendiri.


Di akhir tulisan ini, izinkan saya menundukkan kepala sejenak.

Untuk almarhum YBR,
semoga engkau beristirahat dalam damai,
lepas dari beban yang terlalu berat untuk usia sekecil itu,
dan ditempatkan di sebaik-baik tempat di sisi-Nya.

Untuk keluarga yang ditinggalkan,
semoga diberi kekuatan yang tidak habis oleh penjelasan apa pun,
kesabaran yang tidak dipaksa oleh waktu,
dan penghiburan yang datang dari arah yang tak terduga.

Dan untuk kita semua
semoga duka ini tidak berlalu begitu saja,
tidak menguap sebagai kabar lama,
tetapi tinggal sebagai pengingat:
bahwa setiap anak layak didengar,
sebelum dunia menjadi terlalu sunyi baginya.