Mencari Sekolah, Menjaga Arah
Sejak awal tahun 2026, saya mulai disibukkan dengan memilihkan sekolah SMP sederajat yang paling sesuai untuk anak pertama saya, Aisha Yumna. Sebuah fase yang, jujur saja, terasa jauh lebih rumit dibanding saat memilihkan SD dulu. Bukan karena kurangnya informasi, justru sebaliknya: terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak kesadaran baru yang muncul seiring bertambahnya usia anak dan pengalaman saya sebagai orang tua.
Tinggal di kota kecil membuat pilihan sekolah menjadi sangat terbatas. Tidak banyak alternatif, tidak banyak variasi pendekatan pendidikan. Hampir semuanya seragam, baik dari sisi kurikulum, metode belajar, hingga cara sekolah memosisikan peran orang tua. Pada titik ini, saya mulai menyadari bahwa keterbatasan geografis bukan hanya soal jarak atau fasilitas, tetapi juga soal paradigma.
Di saat yang sama, ada satu kesadaran yang semakin menguat: sekolah hanyalah alat bantu dalam mendidik anak. Ia bukan pusat pendidikan, bukan pula penentu masa depan. Beban pendidikan, dalam arti yang paling hakiki, tetap berada di pundak orang tua. Sekolah bisa membantu, bisa mempercepat, bisa memperluas, tetapi tidak pernah bisa menggantikan peran keluarga.
Kesadaran ini membuat proses memilih sekolah menjadi jauh lebih serius. Saya tidak lagi mencari sekolah “terbaik” dalam arti ranking, gedung, atau popularitas. Saya justru mencari sekolah yang paling memungkinkan bagi orang tua untuk tetap terlibat, mengarahkan, dan mengendalikan fokus pendidikan anak.
Saya tidak ingin sekolah menjadi satu-satunya otoritas dalam menentukan arah pendidikan Aisha. Saya ingin sekolah menjadi mitra, bukan pengendali tunggal.
Sekolah Negeri sebagai Pilihan Terakhir
Dalam proses ini, sekolah negeri secara sadar saya tempatkan sebagai kandidat terakhir. Bukan karena kualitasnya buruk, bukan pula karena stigma tertentu. Banyak sekolah negeri yang bagus, bahkan sangat bagus. Namun ada satu hal yang sulit saya kompromikan: fleksibilitas.
Sekolah negeri, dengan segala kelebihan sistemnya, masih sangat terikat pada aturan, target, dan standar yang seragam. Kurikulum harus selesai, administrasi harus terpenuhi, dan sering kali tidak ada ruang yang cukup untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan unik setiap anak. Bagi sebagian keluarga, ini bukan masalah. Tetapi bagi kami, ini menjadi catatan besar.
Kami mencari sekolah yang lebih lentur, yang tidak merasa “terancam” ketika orang tua memiliki visi pendidikan sendiri. Sekolah yang tidak alergi dengan anak belajar di luar kurikulum, tidak cemas ketika anak memiliki minat yang melampaui standar kelasnya, dan tidak merasa tersaingi ketika orang tua mengambil peran aktif.
Saya tidak ingin sekolah menjadi satu-satunya otoritas dalam menentukan arah pendidikan Anak. Saya ingin sekolah menjadi mitra, bukan pengendali tunggal.
Keinginan Anak dan Tugas Orang Tua
Pada jenjang ini, Aisha sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya dengan cukup jelas. Ia tidak lagi sekadar mengikuti, tetapi mulai memilih. Salah satu hal yang cukup mengejutkan sekaligus membahagiakan saya adalah minatnya pada bahasa.
Aisha ingin menguasai bahasa Arab, Mandarin, dan Jerman. Bahasa Inggris, yang sudah ia kuasai sejak SD, ia anggap sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya”, bukan lagi tujuan utama. Cara berpikir seperti ini membuat saya tersenyum, sekaligus merenung. Anak-anak hari ini tumbuh dengan horizon yang jauh lebih luas dibanding generasi saya.
Keinginan ini tentu bukan sesuatu yang sederhana. Menguasai satu bahasa asing saja sudah membutuhkan konsistensi dan lingkungan yang mendukung, apalagi tiga. Tetapi di sinilah peran orang tua diuji. Apakah kita hanya akan berkata “itu terlalu berat”, atau justru bertanya “bagaimana caranya agar ini mungkin?”
Selain bahasa, ada satu hal lain yang muncul dalam diskusi kami: kecerdasan buatan, atau AI. Bagi Aisha, AI bukan sesuatu yang menakutkan atau asing. Ia melihatnya sebagai alat, sebagai sesuatu yang bisa membantu belajar, berkarya, dan berpikir. Saya menyadari bahwa melarang atau menghindari teknologi ini justru akan membuat anak tertinggal.
Namun di sisi lain, membiarkan tanpa pendampingan juga berbahaya. Maka kembali lagi ke satu kesimpulan: sekolah saja tidak cukup. Orang tua harus hadir, memahami, dan ikut belajar.
Mencari Sekolah yang Memberi Ruang
Dengan semua pertimbangan itu, kami mulai mencari sekolah yang tidak hanya “mengajar”, tetapi juga memberi ruang. Ruang untuk anak berkembang sesuai minatnya, dan ruang untuk orang tua terlibat tanpa dicurigai.
Kami tidak mencari sekolah yang menjanjikan anak pintar, juara, atau masuk sekolah favorit berikutnya. Kami mencari sekolah yang mau mengakui bahwa setiap anak punya jalannya sendiri. Bahwa keberhasilan tidak selalu bisa diukur dengan angka rapor atau ranking kelas.
Di kota kecil, sekolah seperti ini tidak banyak. Bahkan bisa dibilang sangat jarang. Beberapa sekolah terlihat menarik di brosur, tetapi ketika digali lebih dalam, pendekatannya tetap sama: target kurikulum, disiplin kaku, dan sedikit ruang dialog dengan orang tua.
Pada titik ini, saya sempat merasa lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lelah mental. Apakah saya terlalu idealis? Apakah saya menuntut sesuatu yang tidak realistis? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul, tetapi tidak bertahan lama. Setiap kali ragu, saya kembali pada satu prinsip sederhana: ini tentang anak saya, bukan tentang kenyamanan sistem.
Pendidikan sebagai Proses Panjang
Memilih SMP ternyata membuat saya kembali meninjau ulang makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan proyek enam bulan, bukan pula target tiga tahun. Ia adalah proses panjang, seumur hidup. Dan SMP hanyalah satu fase kecil di dalamnya.
Jika pada fase ini kami bisa menjaga rasa ingin tahu anak, menumbuhkan kecintaannya pada belajar, dan membekalinya dengan alat berpikir yang kuat, maka kami tidak terlalu khawatir dengan label sekolah atau status institusinya.
Justru yang paling saya takuti adalah ketika anak kehilangan minat belajar karena sistem yang terlalu menekan. Ketika belajar berubah menjadi kewajiban yang melelahkan, bukan petualangan yang menyenangkan.
Di usia SMP, anak-anak berada di persimpangan penting. Mereka mulai mencari identitas, mulai mempertanyakan banyak hal, dan mulai membandingkan diri dengan dunia di sekitarnya. Sekolah yang terlalu kaku bisa membuat anak patuh, tetapi tidak selalu membuatnya tumbuh.
Orang Tua yang Harus Terus Belajar
Proses ini juga menyadarkan saya pada satu hal lain: orang tua tidak boleh berhenti belajar. Tidak cukup hanya menyekolahkan anak, lalu merasa tugas selesai. Dunia berubah terlalu cepat untuk sikap seperti itu.
Ketika anak belajar bahasa baru, orang tua setidaknya harus memahami tantangannya. Ketika anak mengenal AI, orang tua harus tahu batas dan manfaatnya. Bukan untuk mengontrol secara berlebihan, tetapi untuk mendampingi dengan sadar.
Saya tidak ingin menjadi orang tua yang berkata, “dulu zaman saya tidak seperti ini”, lalu menutup diri. Kalimat itu mungkin benar, tetapi tidak relevan. Dunia anak saya bukan dunia saya dulu. Maka tugas saya bukan menarik anak ke masa lalu, tetapi membantunya menavigasi masa depan.
Menurunkan Ekspektasi, Menaikkan Kesadaran
Dalam proses memilih sekolah ini, saya juga belajar menurunkan ekspektasi terhadap institusi, dan menaikkan kesadaran terhadap peran keluarga. Sekolah tidak harus sempurna. Yang penting, ia tidak menghalangi.
Jika sekolah bisa menyediakan lingkungan yang aman, guru yang mau mendengar, dan sistem yang cukup fleksibel, maka sisanya bisa kami lengkapi di rumah. Dengan catatan, orang tua benar-benar hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Saya mulai berdamai dengan kenyataan bahwa mungkin tidak ada sekolah yang sepenuhnya ideal. Tetapi selalu ada pilihan yang paling mendekati nilai yang kami yakini. Dan tugas orang tua adalah memilih dengan sadar, bukan sekadar mengikuti arus.
Penutup yang Belum Benar-Benar Penutup
Perjalanan memilih SMP untuk Aisha Yumna ini belum sepenuhnya selesai. Masih ada diskusi, pertimbangan, dan mungkin perubahan rencana. Tetapi satu hal yang sudah pasti: proses ini membuat saya tumbuh dan belajar ulang menjadi orang tua.
Saya belajar bahwa mendidik anak bukan tentang mencari tempat terbaik, tetapi tentang menjadi pendamping terbaik. Sekolah boleh berganti, kurikulum bisa berubah, teknologi akan terus berkembang. Tetapi kehadiran orang tua adalah konstanta yang tidak tergantikan.
Dan mungkin, di kota kecil dengan pilihan terbatas ini, justru saya belajar sesuatu yang penting: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan undangan untuk lebih sadar dalam memilih.


Gabung dalam percakapan