Studi Banding Kebersihan yang Disamarkan sebagai Liburan Keluarga

Liburan keluarga sering kali dibayangkan sebagai jeda dari rutinitas, waktu untuk melepas penat, dan ruang untuk menikmati kebersamaan tanpa beban pikiran. Namun bagi saya, liburan hampir selalu membawa satu agenda tambahan—bukan karena tidak bisa benar-benar santai, tetapi karena kebiasaan mengamati tidak pernah bisa benar-benar dimatikan. Begitulah yang terjadi ketika kami memilih The Singhasari Resort sebagai destinasi liburan keluarga.

Di permukaan, ini hanyalah perjalanan keluarga biasa. Mengajak anak-anak dan istri saya berlibur, menginap di resort yang ramah anak dan orang tua, menikmati udara Batu yang sejuk, dan menjauh sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan. Namun ada satu agenda terselubung yang sengaja tidak saya sampaikan kepadanya sejak awal: studi banding kebersihan.

Sebagai pengelola Kampung Inggris Pare-Dise, saya tidak hanya mengelola program belajar, tetapi juga asrama dan kos. Lingkungan tempat tinggal ratusan orang dengan latar belakang berbeda. Di titik inilah kebersihan bukan lagi sekadar soal lantai bersih atau kamar mandi wangi, melainkan soal budaya, standar, dan konsistensi. Saya ingin anak saya memahami itu, bukan lewat ceramah, tetapi lewat pengalaman langsung.

Mengapa Kebersihan Perlu Dipelajari, Bukan Hanya Diperintahkan

Ada banyak cara mengajarkan kebersihan kepada anak. Memberi tugas, membuat aturan, atau bahkan memberi sanksi. Tapi saya belajar satu hal: kebersihan yang bertahan lama lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Kesadaran itu sulit tumbuh jika anak tidak pernah melihat standar yang benar-benar tinggi. Jika yang ia kenal hanya “cukup bersih” versi rumah atau lingkungan sekitar, maka itulah yang akan ia anggap sebagai batas maksimal. Saya ingin memperluas batas itu.

The Singhasari Resort Batu memberi ruang ideal untuk itu. Bukan karena kemewahan yang berlebihan, tetapi karena detail-detail kecil kebersihan yang konsisten dan terasa. Dari area parkir, lobi, koridor, kamar, hingga area publik—semuanya terasa terawat tanpa terkesan dipamerkan.

Di sinilah pembelajaran diam-diam dimulai.

Mengamati Tanpa Menggurui

Saya tidak pernah berkata, “Nak, perhatikan ini ya, ini namanya standar kebersihan.” Saya memilih diam. Membiarkannya berjalan, menyentuh, duduk, tidur, dan menggunakan fasilitas seperti tamu lain. Sesekali saya hanya bertanya ringan, pertanyaan yang tidak terdengar seperti ujian.

“Nyaman nggak kamarnya?”
“Kalau kamar mandi bersih, rasanya gimana?”
“Enak nggak tidur di tempat yang rapi?”

Jawaban-jawabannya sederhana, tapi jujur. Ia merasa nyaman. Ia merasa betah. Ia merasa ingin berlama-lama.

Dan di situlah poin pentingnya: kebersihan selalu berdampak pada rasa. Rasa aman, rasa tenang, rasa dihargai sebagai pengguna ruang.


Standar Tinggi Itu Terasa, Bukan Dijelaskan

Salah satu hal yang saya sadari selama menginap adalah bahwa standar kebersihan tinggi tidak selalu harus terlihat mencolok. Tidak ada papan besar bertuliskan “Kami Sangat Bersih”. Tidak ada upaya berlebihan untuk menunjukkan bahwa tempat ini steril.

Namun justru karena itulah kebersihannya terasa nyata.

Handuk bersih tanpa bau apek.
Lantai kamar mandi kering dan tidak licin.
Tempat tidur rapi tanpa kesan kaku.
Area umum bersih tanpa aroma pembersih yang menyengat.

Semua ini mungkin terlihat sepele, tetapi perlu dikerjakan secara konsisten. Anak saya mungkin tidak mampu menjelaskan dengan kata-kata teknis, tetapi tubuhnya merespons. Ia nyaman. Ia betah.

Dan kenyamanan itu secara perlahan membentuk pemahaman baru dalam dirinya: inilah standar yang seharusnya.

Menghubungkan Pengalaman Liburan dengan Realitas Asrama

Dalam perjalanan pulang, barulah saya mulai membuka percakapan yang lebih dalam. Bukan dengan nada menggurui, melainkan mengaitkan pengalaman yang baru saja kami rasakan dengan lingkungan yang selama ini ia kenal.

“Kira-kira kenapa ya kita betah di sini?”
“Menurutmu, kalau asrama dan kos kita bisa sebersih ini, rasanya gimana?”

Tidak ada jawaban yang instan. Tapi saya bisa melihat satu hal: ia mulai berpikir. Mulai membandingkan. Mulai menyadari bahwa kebersihan bukan sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang berdampak langsung pada kenyamanan hidup.

Sebagai anak dari pengelola asrama dan kos, ia selama ini melihat kebersihan sebagai tugas orang lain—petugas, pengurus, atau aturan tertulis. Tapi melalui pengalaman ini, kebersihan berubah menjadi tanggung jawab bersama.

Dari Tamu Menjadi Penjaga Lingkungan

Yang paling saya harapkan dari liburan ini bukanlah pujian, bukan pula kesan mewah yang diceritakan ke teman-temannya. Yang saya harapkan adalah satu perubahan kecil: rasa memiliki terhadap kebersihan lingkungan tempat ia hidup.

Saya ingin ketika ia kembali ke asrama dan kos yang kami kelola, ia tidak lagi melihat sampah sebagai hal biasa, kamar mandi kotor sebagai kewajaran, atau lantai berdebu sebagai takdir. Saya ingin ada dorongan dari dalam dirinya untuk bertanya, “Apa ini sudah cukup baik?”

Karena perubahan besar selalu dimulai dari pertanyaan kecil.

Kebersihan sebagai Pendidikan Karakter

Mengelola Kampung Inggris Pare-dise mengajarkan saya bahwa pendidikan tidak selalu terjadi di kelas. Nilai-nilai penting sering kali justru terbentuk di luar modul dan kurikulum. Kebersihan adalah salah satunya.

Lingkungan bersih melatih disiplin.
Standar tinggi melatih tanggung jawab.
Konsistensi melatih integritas.

Dengan mengajak anak saya merasakan langsung bagaimana standar kebersihan diterapkan di The Singhasari Resort Batu, saya sebenarnya sedang mengajaknya belajar tentang etos kerja, rasa hormat terhadap ruang, dan kepedulian terhadap orang lain.

Karena ruang yang bersih selalu diciptakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk semua yang menggunakannya.

Pulang dengan Perspektif Baru

Liburan ini akhirnya selesai, tetapi dampaknya belum. Saya melihat perubahan kecil dalam cara anak saya memperlakukan ruang. Lebih peka. Lebih peduli. Tidak sempurna, tentu saja. Tapi cukup untuk membuat saya yakin bahwa metode ini berhasil.

Bukan dengan ceramah panjang.
Bukan dengan aturan kaku.
Melainkan dengan pengalaman nyata.

The Singhasari Resort Batu, bagi kami, bukan sekadar tempat menginap. Ia menjadi ruang belajar yang menyenangkan—tempat standar tinggi kebersihan diperkenalkan tanpa paksaan, tanpa tekanan, dan tanpa kata-kata berlebihan.

Dan ketika kami pulang, saya tahu satu hal: studi banding kebersihan ini tidak berhenti di resort. Ia baru saja dimulai, di lingkungan asrama dan kos yang kami kelola, dengan satu agen perubahan kecil—anak saya sendiri.