Menjaga Bahagia: Sebuah Jeda di The Singhasari Resort
Menjadi tetap bahagia dan berpikir positif adalah hal yang sangat saya jaga. Bukan karena hidup selalu ramah, melainkan karena saya percaya bahwa dengan menjaga hati, kita sedang membuka diri untuk benar-benar merasakan nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan. Nikmat itu sering kali tidak datang dalam bentuk besar dan dramatis, tetapi justru hadir dalam jeda-jeda kecil yang kita izinkan terjadi di tengah rutinitas.
Seperti kali ini.
Setelah melewati hiruk pikuk aktivitas pekerjaan di Kampung Inggris Pare-Dise, saya mengajak keluarga kecil saya untuk sejenak berhenti. Bukan berhenti dari tanggung jawab, tetapi berhenti dari ritme yang terlalu cepat. Menikmati rezeki yang telah dititipkan oleh-Nya, tanpa banyak agenda, tanpa target, tanpa harus selalu produktif.
Uniknya, waktu kami berlibur justru berlawanan dengan kebanyakan orang. Saat liburan semester dan Nataru tiba, ketika banyak orang menikmati waktu senggang, saya justru berada di fase paling sibuk. Dan ketika kalender mulai kembali normal, ketika sebagian besar orang kembali ke meja kerja mereka, saya dan keluarga justru melangkah keluar, mencari ruang untuk bernapas.
Pilihan kami kali ini jatuh pada The Singhasari Resort, sebuah hotel bintang lima yang—tanpa ragu—menjadi favorit istri saya. Bahkan pada kunjungan pertama, dan itu yang membuatnya terasa berbeda.
Sejak pertama kali memasuki area resort, ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Tenang, lapang, dan tidak tergesa-gesa. The Singhasari bukan sekadar hotel mewah dengan bangunan besar dan taman rapi, tetapi sebuah ruang yang seolah mengajak pengunjungnya untuk melambat. Pelayanan yang ramah tanpa berlebihan, sikap staf yang hangat tanpa terasa dibuat-buat—hal-hal kecil yang sering luput dari penilaian, tetapi justru menentukan kenyamanan.
Bagi istri saya, The Singhasari adalah tentang rasa aman dan nyaman. Tentang tahu bahwa ia bisa benar-benar beristirahat tanpa harus memikirkan banyak hal. Baginya, hotel ini bukan hanya tempat menginap, tetapi tempat pulang sementara.
Anak pertama kami langsung menemukan dunianya sendiri. Kolam renang dengan jacuzzi menjadi pusat kebahagiaannya. Bukan sekadar berenang, tetapi bermain, tertawa, dan menghabiskan waktu tanpa konsep jam. Saya memperhatikannya dari kejauhan, sambil sesekali tersenyum sendiri. Di usia seperti itu, bahagia memang sesederhana air, ruang, dan kebebasan.
Sementara saya, justru jatuh cinta pada hal yang mungkin tidak masuk daftar unggulan resort: ruang publiknya. The Singhasari memiliki banyak area terbuka yang bebas digunakan. Sudut-sudut sunyi dengan kursi nyaman, taman yang tertata tanpa terasa kaku, hingga area semi outdoor yang cocok untuk sekadar duduk, membaca, atau membuka laptop.
Di sanalah saya menghabiskan banyak waktu. Bersantai, merenung, dan sesekali menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil yang memang sudah menjadi kebiasaan saya, bahkan saat liburan. Bukan karena tidak bisa lepas dari pekerjaan, tetapi karena bagi saya, bekerja dalam suasana tenang justru terasa lebih ringan. Tidak ada tekanan, tidak ada tenggat yang mencekik—hanya ritme yang lebih manusiawi.
Yang menarik, pada kunjungan kali ini, justru anak kedua dan istri saya yang paling menikmati eksplorasi area resort. Biasanya, hal-hal seperti berjalan menyusuri taman, memperhatikan detail bangunan, atau sekadar duduk di area luar sering terlewatkan. Namun kali ini berbeda. Mereka seperti menemukan versi lain dari The Singhasari—lebih personal, lebih intim.
Saya melihat bagaimana anak kedua saya begitu antusias berjalan ke sana kemari, seolah setiap sudut adalah petualangan baru. Istri saya pun terlihat lebih santai, lebih hadir, menikmati momen tanpa terburu-buru. Mungkin karena tidak ada agenda besar, tidak ada daftar “harus ke sini, harus ke sana”. Kami membiarkan hari berjalan apa adanya.
Untuk urusan sarapan, The Singhasari menyajikan pengalaman yang cukup memuaskan. Bukan yang terbaik yang pernah saya rasakan, tetapi jelas berada di atas rata-rata hotel bintang lima yang pernah saya kunjungi. Yang membuatnya istimewa adalah variasi menu yang sangat beragam. Dari hidangan lokal hingga internasional, dari yang ringan hingga yang mengenyangkan.
Bagi saya, sarapan di hotel bukan hanya soal rasa, tetapi soal suasana. Duduk bersama keluarga, pagi yang tenang, tanpa distraksi berlebihan. Dan di sini, pengalaman itu hadir dengan cukup baik. Tidak sempurna, tetapi jujur dan layak diapresiasi.
Sebenarnya, resort ini menawarkan banyak fasilitas lain: gym, tenis meja, mini golf, billiard, playground, dan berbagai aktivitas penunjang lainnya. Namun kali ini, saya memilih untuk tidak menggunakan semuanya. Bukan karena fasilitasnya kurang menarik, tetapi karena tujuan kami memang bukan untuk “memaksimalkan semua yang ada”.
Ada fase dalam hidup di mana kita berhenti mengejar pengalaman, dan mulai memilih kehadiran. Saya tidak merasa perlu mencoba semuanya untuk merasa puas. Justru dengan membiarkan beberapa fasilitas tidak tersentuh, saya merasa lebih ringan. Tidak ada rasa harus, tidak ada rasa sayang kalau tidak dipakai.
Staycation ini mengajarkan saya satu hal penting: bahagia tidak selalu tentang pergi jauh atau mencoba hal baru. Kadang, bahagia adalah tentang duduk diam tanpa merasa bersalah. Tentang menikmati apa yang ada, tanpa membandingkan dengan apa yang seharusnya.
The Singhasari Resort, bagi saya, bukan sekadar hotel bintang lima dengan fasilitas mewah. Ia adalah ruang jeda. Tempat di mana saya diingatkan bahwa rezeki bukan hanya tentang materi, tetapi tentang waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk bersama keluarga.
Di tengah kesibukan yang sering kali membuat kita lupa bernapas, jeda seperti ini terasa sangat berharga. Dan mungkin, itulah bentuk syukur yang paling sederhana: berhenti sejenak, lalu berkata dalam hati, “Nikmat ini cukup.”
Kami pulang tanpa euforia berlebihan, tanpa cerita sensasional. Tetapi dengan hati yang lebih utuh. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.



Gabung dalam percakapan