Ramadhan 1447 H: Ketika Rumah Menjadi Madrasah Pertama
Ramadhan 1447 Hijriah kembali hadir. Ia tidak hanya datang ke masjid-masjid, tetapi juga ke ruang keluarga kita. Ia mengetuk bukan hanya pintu rumah, tetapi juga pintu hati.
Setiap Ramadhan selalu punya cerita. Dan bagi saya, Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Lebih personal. Lebih reflektif.
Tahun ini, anak kedua saya, Sultan Shankara, akan mulai belajar berpuasa. Sebuah fase baru dalam perjalanan kecilnya memahami makna menahan diri. Sementara itu, anak pertama saya, Aisha Yumna, yang sejak masih TK sudah belajar puasa penuh, kini sudah kelas 6 dan telah baligh. Maka pendampingannya pun berubah: bukan lagi sekadar belajar puasa penuh, tetapi peningkatan kualitas ibadah.
Di situlah saya kembali disadarkan: Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pendidikan.
Puasa sebagai Proses, Bukan Target
Ketika Sultan Shankara mulai belajar puasa, saya tahu bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar kemampuan menahan lapar hingga magrib. Yang sedang ditanam adalah makna.
Belajar puasa bagi anak bukan tentang memaksa kuat, tetapi melatih perlahan. Mungkin belum penuh. Mungkin masih setengah hari. Mungkin masih disertai banyak pertanyaan.
Dan justru di situlah indahnya.
Ramadhan mengajarkan bahwa proses lebih penting daripada pencapaian. Anak-anak belajar bukan karena ancaman, tetapi karena keteladanan. Mereka melihat bagaimana orang tuanya berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain saat berpuasa.
Puasa pertama seorang anak adalah kenangan. Dan kenangan itu akan melekat jauh lebih lama daripada sekadar hitungan jam ia mampu bertahan.
Dari Belajar Menahan Lapar ke Belajar Menahan Diri
Berbeda dengan Sultan yang sedang memulai, Aisha Yumna kini berada pada fase lain. Ia sudah baligh. Puasa bukan lagi latihan, tetapi kewajiban. Bukan lagi belajar bertahan, tetapi belajar bertumbuh.
Dulu, pendampingan kami lebih pada memastikan ia kuat berpuasa penuh. Sekarang, tantangannya berbeda: bagaimana meningkatkan kualitas ibadahnya.
Bagaimana salatnya lebih khusyuk.
Bagaimana tilawahnya lebih terjaga.
Bagaimana akhlaknya semakin matang.
Karena sejatinya, setelah baligh, pendidikan tidak berhenti—ia berubah level.
Ramadhan bagi remaja bukan lagi soal fisik, tetapi soal kesadaran. Kesadaran bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi tanggung jawab personal di hadapan Allah.
Rumah sebagai Madrasah Pertama
Ramadhan selalu mengingatkan saya bahwa rumah adalah sekolah paling awal dan paling lama bagi anak-anak.
Sahur bukan hanya membangunkan tubuh, tetapi membangunkan kesadaran.
Berbuka bukan hanya menyegerakan makan, tetapi menyegerakan syukur.
Tarawih bukan hanya gerakan, tetapi kebersamaan.
Di rumah, anak-anak belajar tentang kesabaran saat menunggu azan magrib. Mereka belajar tentang empati ketika kita ajak berbagi. Mereka belajar tentang disiplin ketika kita ajak menjaga waktu.
Dan yang paling penting: mereka belajar dari contoh.
Anak tidak belajar dari nasihat panjang. Ia belajar dari apa yang ia lihat setiap hari.
Ramadhan dan Keteladanan Orang Tua
Saya sering merasa bahwa Ramadhan justru lebih mendidik orang tua daripada anak-anak.
Karena ketika kita ingin anak rajin shalat, kita harus lebih dulu rajin.
Ketika kita ingin anak jujur dalam berpuasa, kita harus lebih dulu jujur pada diri sendiri.
Ketika kita ingin anak mencintai Al-Qur’an, kita harus memperlihatkan kecintaan itu.
Ramadhan memaksa kita bercermin.
Apakah kita hanya menyuruh, atau benar-benar memberi contoh?
Apakah kita hanya berharap anak berubah, tanpa kita ikut berubah?
Di bulan inilah standar keteladanan diuji.
Pendidikan yang Bertahap
Melihat Sultan yang mulai belajar puasa dan Aisha yang sudah memasuki fase baligh, saya semakin yakin bahwa pendidikan dalam Islam memang bertahap.
Ada fase pengenalan.
Ada fase pembiasaan.
Ada fase penegasan tanggung jawab.
Tidak semua anak harus sama kecepatannya. Tidak semua harus seragam caranya. Yang terpenting adalah konsistensi dan suasana yang hangat.
Ramadhan bukan bulan tekanan. Ia bulan pelukan.
Anak yang belajar puasa harus merasa bangga, bukan takut. Anak yang sudah baligh harus merasa dipercaya, bukan dicurigai.
Ramadhan sebagai Evaluasi Keluarga
Ramadhan 1447 H ini juga menjadi momentum evaluasi bagi kami sebagai orang tua.
Apakah suasana rumah sudah mendukung ibadah?
Apakah waktu bersama sudah cukup berkualitas?
Apakah percakapan di meja makan masih hidup?
Sering kali kita sibuk menyiapkan menu berbuka, tetapi lupa menyiapkan atmosfer ruhani.
Padahal yang paling diingat anak-anak kelak bukanlah jenis makanan, tetapi perasaan kebersamaan.
Ramadhan adalah ruang memperbaiki itu semua.
Tantangan Generasi Digital
Anak-anak hari ini tumbuh di era yang berbeda. Distraksi ada di genggaman. Waktu mudah habis oleh layar.
Maka Ramadhan menjadi sangat relevan sebagai momen pengendalian.
Belajar puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang melalaikan. Mengurangi gawai. Menguatkan interaksi nyata. Menghidupkan percakapan keluarga.
Jika Ramadhan bisa menjadi momen “detoks digital” bagi keluarga, maka ia telah menjalankan fungsi pendidikannya dengan baik.
Kemenangan yang Berbeda bagi Setiap Anak
Ramadhan tahun ini, mungkin kemenangan Sultan adalah mampu berpuasa hingga dzuhur, lalu ashar, lalu magrib. Progres kecil yang patut dirayakan.
Sementara kemenangan Aisha mungkin adalah mampu menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak tilawah, atau memperbaiki sikap.
Dan kemenangan bagi saya sebagai orang tua?
Mampu membersamai mereka dengan sabar.
Mampu menjadi teladan yang lebih baik daripada tahun lalu.
Karena sejatinya, setiap anggota keluarga punya Ramadhan-nya masing-masing.
Selamat Ramadhan 1447 H
Ramadhan tidak pernah datang dua kali dalam bentuk yang sama. Anak-anak tumbuh. Orang tua bertambah usia. Tantangan berubah.
Tetapi satu yang tetap: kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kepada para orang tua yang anaknya baru belajar puasa, nikmati prosesnya.
Kepada yang anaknya sudah baligh, kuatkan pendampingannya.
Kepada para pendidik, jadikan Ramadhan sebagai ruang pendidikan karakter.
Kepada para pemimpin keluarga, jadikan rumah sebagai tempat paling nyaman untuk bertumbuh.
Ramadhan 1447 H ini, saya belajar bahwa mendidik anak bukan tentang hasil instan, tetapi tentang perjalanan panjang yang sabar.
Semoga Sultan Shankara menikmati proses belajarnya.
Semoga Aisha Yumna semakin dewasa dalam ibadahnya.
Dan semoga kita semua tidak hanya bertemu Ramadhan, tetapi benar-benar bertumbuh bersamanya.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah.
Semoga Ramadhan kali ini menjadikan rumah kita lebih hangat, hati kita lebih lembut, dan iman kita lebih kuat dari sebelumnya.

Gabung dalam percakapan