Wisata Dusun Kuliner Batu: Ketika Makan, Jalan, dan Diam Bertemu di Satu Tempat
Ada tempat-tempat wisata yang terasa sibuk sejak kita memarkir kendaraan. Musik keras, antrean panjang, teriakan anak-anak, dan papan-papan besar yang seolah berlomba meminta perhatian. Wisata Dusun & Kuliner Batu bukan tipe tempat seperti itu. Ia menyambut dengan cara yang lebih pelan—dan mungkin justru di situlah daya tarik utamanya.
Saya datang tanpa ekspektasi berlebihan. Kota Batu sudah terlalu sering menawarkan janji yang sama: sejuk, hijau, ramah keluarga. Tapi Wisata Dusun Kuliner memberi pengalaman yang sedikit berbeda. Bukan karena ia paling megah, bukan pula karena paling viral, melainkan karena ia tahu betul apa yang ingin ia hadirkan: ruang untuk berjalan, makan, dan menikmati waktu tanpa harus terburu-buru.
Tiket Masuk yang Masih Masuk Akal
Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung dikenakan tiket Rp20.000 per orang. Parkir mobil Rp10.000. Angka yang, untuk ukuran tempat wisata di Batu hari ini, masih terasa wajar. Tidak murah sekali, tapi juga tidak membuat kita bertanya-tanya, “ini nanti dapat apa?”
Justru di sini, harga tiket terasa seperti pembuka yang jujur: cukup untuk perawatan, cukup untuk fasilitas, tanpa embel-embel berlebihan. Tidak ada klaim wah. Tidak ada janji sensasional. Kita masuk, lalu dibiarkan menilai sendiri.
Kawasan yang Tidak Dibangun untuk Dikejar-kejar
Wisata Dusun & Kuliner bukan tempat yang harus diselesaikan. Ia tidak menuntut pengunjung mengunjungi semua sudut, mencoba semua wahana, atau memotret setiap spot. Jalannya berkelok ringan, dengan kontur yang mengikuti alam, bukan memaksanya tunduk.
Langkah pertama langsung memperlihatkan karakter tempat ini: rindang, terbuka, dan rapi tanpa terlihat kaku. Bangunan-bangunannya tidak tinggi. Warna-warnanya lembut. Ada kesan bahwa tempat ini dibangun untuk bertahan lama, bukan sekadar tampil cantik di satu musim liburan.
Makan Tanpa Rasa Diperas
Sebagai tempat yang mengusung nama “kuliner”, pertanyaan utama tentu soal makanan. Dan kabar baiknya, harga makanan di Wisata Dusun & Kuliner masih cukup terjangkau untuk ukuran tempat wisata.
Tidak ada harga yang terasa melonjak hanya karena label “wisata”. Kita tetap bisa makan dengan tenang tanpa perlu membuka kalkulator di kepala setiap kali memesan. Menu yang tersedia cukup beragam, dari makanan tradisional hingga menu yang aman untuk anak-anak dan keluarga.
Yang paling penting: tidak ada kesan dipaksa cepat. Meja-meja disusun dengan jarak yang manusiawi. Pengunjung bisa duduk lebih lama tanpa merasa menghalangi orang lain. Makan di sini terasa seperti jeda, bukan target.
Petik Apel: Aktivitas Sederhana yang Tetap Relevan
Di tengah banyaknya wahana modern, petik apel justru terasa seperti pengingat bahwa kesederhanaan masih punya tempat. Dengan biaya Rp25.000, pengunjung bisa merasakan pengalaman memetik apel langsung dari pohonnya.
Tidak lama, tidak rumit, tapi cukup memberi rasa “ikut serta”. Anak-anak senang, orang dewasa tersenyum, dan semua pulang dengan pengalaman kecil yang nyata—bukan sekadar foto.
Aktivitas ini juga terasa menyatu dengan kawasan, bukan tempelan. Ia tidak dibuat heboh, tapi dibiarkan berjalan apa adanya.
Guest House: Menginap Tanpa Kehilangan Suasana
Bagi yang ingin tinggal lebih lama, Wisata Dusun & Kuliner juga menyediakan guest house dengan harga mulai dari Rp588.000 hingga Rp1.128.000. Rentang harga yang menunjukkan pilihan, bukan paksaan.
Menginap di kawasan seperti ini memberi pengalaman berbeda. Pagi hari terasa lebih tenang. Udara lebih bersih. Suara yang terdengar bukan klakson, tapi langkah dan dedaunan. Cocok untuk keluarga, pasangan, atau siapa pun yang ingin benar-benar berhenti sejenak dari ritme kota.
Taman Bunga: Alasan Saya Ingin Kembali
Dari semua yang ada di Wisata Dusun Kuliner, taman bunganya adalah bagian yang paling saya sukai. Bukan karena paling Instagramable—meski jelas cantik—tetapi karena ia dirawat dengan kesabaran.
Bunga-bunga ditanam dengan komposisi yang tidak berlebihan. Warna-warnanya tidak saling bertabrakan. Jalur pejalan kaki memungkinkan kita menikmati taman tanpa merusaknya. Ada ruang untuk duduk, diam, dan sekadar memandang.
Di sini, taman bukan latar belakang. Ia adalah pengalaman itu sendiri.
Ada momen ketika saya berhenti berjalan, bukan karena lelah, tapi karena ingin tinggal lebih lama di satu titik. Itu jarang terjadi di tempat wisata.
Tempat Wisata yang Tidak Berisik tentang Dirinya Sendiri
Wisata Dusun Kuliner tidak terlalu banyak bicara. Ia tidak meneriakkan identitasnya. Tidak memaksa kita kagum. Dan justru karena itu, ia terasa lebih jujur.
Tempat ini cocok untuk keluarga, tapi juga tidak mengusir pengunjung yang datang sendirian. Cocok untuk anak-anak, tapi tidak kekanak-kanakan. Cocok untuk bersantai, tanpa harus kehilangan rasa “pergi ke mana-mana”.
Ia mengerti bahwa tidak semua orang datang untuk hiburan keras. Ada yang datang untuk menghela napas.
Wisata yang Memberi Ruang
Wisata Dusun Kuliner Batu bukan destinasi yang akan membuatmu berkata, “ini yang paling.” Tapi mungkin ia akan membuatmu berkata, “di sini saya nyaman.”
Dan kadang, di tengah hidup yang penuh target dan suara, kenyamanan seperti itu justru yang paling kita cari.
📍 Lokasi: Jalan Raya Batu – Cangar KM 9, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu
🕗 Jam buka: Setiap hari, 09.00–18.00 WIB
💸 Harga tiket: Rp20.000 | Petik apel Rp25.000 | Guest House Rp588.000 s.d Rp1.128.000 | Makan-Minum sesuai menu





Gabung dalam percakapan