Idul Fitri 1447 H: Akhirnya Ingin Lebaran Lagi

Hari ini akhirnya Idul Fitri tiba.
Hari raya yang selalu dinantikan  oleh seluruh umat islam di dunia.

Entah sejak kapan, saya tidak lagi benar-benar menunggu lebaran.
Ia datang, lalu pergi, seperti bagian dari kalender yang sudah kita hafal. Ada takbir, ada salat Ied, ada silaturahmi, ada ketupat, ada opor, lalu selesai. Begitu saja. Tidak ada rasa berdebar seperti dulu.

Tetapi tahun ini berbeda.

Sudah lama sekali saya tidak merasakan ingin segera lebaran.
Kalau saya ingat, terakhir kali saya benar-benar menunggu lebaran dengan perasaan tidak sabar adalah saat masih sekolah dasar.

Dulu, lebaran adalah hari yang paling ditunggu dalam setahun.
Bukan karena makna spiritualnya, tentu saja.
Anak kecil tidak memikirkan itu.

Saya menunggu lebaran karena banyak jajanan.
Karena boleh makan sepuasnya.
Karena boleh bangun siang.
Karena dapat baju baru.
Dan tentu saja, karena ada uang angpao.

Lebaran adalah kegembiraan yang sangat sederhana.

Saya masih ingat bagaimana rasanya menghitung hari menjelang Idul Fitri.
Berapa hari lagi puasa selesai.
Berapa malam lagi takbiran.
Berapa rumah lagi yang bisa didatangi untuk silaturahmi.

Semakin dekat lebaran, semakin tidak sabar.

Sekarang, setelah dewasa, perasaan itu hampir hilang.
Bukan karena lebaran tidak penting, tetapi karena hidup menjadi lebih rumit.

Ketika Lebaran Tidak Lagi Sesederhana Dulu

Semakin bertambah usia, semakin banyak yang kita pikirkan.
Lebaran bukan lagi hanya soal makanan dan baju baru.
Ada pekerjaan.
Ada tanggung jawab.
Ada berita.
Ada masalah negara.
Ada hal-hal yang tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Dan mungkin itu yang membuat lebaran terasa biasa saja selama bertahun-tahun.

Datang, lalu pergi.
Tanpa rasa menunggu.

Tetapi Ramadan tahun ini berbeda.
Dan karena Ramadan berbeda, lebarannya pun terasa berbeda.

Bukan karena lebih meriah.
Bukan karena lebih banyak makanan.
Bukan karena lebih banyak uang.

Tetapi karena tahun ini terasa berat.

Bukan berat karena puasa.
Melainkan berat karena menahan diri.

Ramadan yang Penuh Godaan untuk Bersikap

Sepanjang Ramadan 1447 H ini, terlalu banyak hal yang sebenarnya ingin saya komentari.

Program MBG yang carut marut.
Koperasi Desa Merah Putih yang membuat banyak orang bertanya-tanya arahnya ke mana.
Penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS yang seharusnya membuat siapa pun marah.
Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang menimbulkan banyak tanda tanya.
Dan masih banyak lagi.

Setiap hari ada saja berita yang membuat tangan ingin menulis.
Ingin berkomentar.
Ingin membantah.
Ingin menjelaskan.
Ingin bersuara.

Tetapi Ramadan datang.

Dan entah kenapa, setiap kali ingin menanggapi sesuatu, selalu teringat satu hal sederhana:

Sedang puasa.

Bukan berarti puasa melarang berbicara.
Bukan berarti puasa melarang mengkritik.
Bukan berarti puasa harus diam terhadap ketidakadilan.

Tetapi puasa mengajarkan menahan diri.

Tidak semua yang benar harus langsung diucapkan.
Tidak semua yang salah harus langsung dilawan.
Tidak semua emosi harus langsung ditumpahkan.

Kadang yang paling sulit bukan menahan lapar, tetapi menahan respon.

Dan Ramadan tahun ini terasa seperti latihan panjang untuk itu.

Menahan Diri, Bukan Karena Takut, Tapi Karena Ingin Tenang

Ada banyak hal yang sebenarnya bisa saya tulis selama Ramadan ini.

Tetapi saya memilih diam.
Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak tahu.
Bukan karena takut.

Saya diam karena ingin menjalani Ramadan dengan lebih tenang.

Saya ingin merasakan puasa bukan hanya di perut, tetapi juga di pikiran.
Saya ingin mencoba tidak selalu reaktif.
Saya ingin mencoba tidak selalu merasa harus ikut berbicara.

Dan ternyata itu tidak mudah.

Setiap kali membaca berita, ada dorongan untuk ikut menanggapi.
Setiap kali melihat kebijakan yang aneh, ada keinginan untuk ikut berkomentar.
Setiap kali melihat ketidakadilan, ada rasa tidak tahan untuk diam.

Di situlah saya merasa puasa benar-benar bekerja.

Ia menahan bukan hanya makan dan minum, tetapi juga ego.

Lebaran yang Kali Ini Terasa Ditunggu

Mungkin karena itulah, tahun ini saya justru menunggu lebaran.

Bukan karena ingin makan bebas.
Bukan karena ingin tidur lebih lama.
Bukan karena ingin selesai dari puasa.

Tetapi karena saya merasa sudah cukup lama menahan diri.

Selama sebulan ini, saya menahan banyak hal.
Menahan komentar.
Menahan emosi.
Menahan keinginan untuk ikut gaduh.

Dan hari ini, ketika Idul Fitri tiba, ada perasaan lega yang aneh.

Seperti seseorang yang selesai menjalani ujian panjang.
Bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena latihan menahan diri sudah sampai pada batasnya.

Dulu saya menunggu lebaran karena ingin jajan.
Sekarang saya menunggu lebaran karena ingin kembali bersuara.

Kembali Bersikap, Setelah Belajar Menahan

Idul Fitri selalu disebut sebagai hari kembali.
Kembali suci.
Kembali bersih.
Kembali seperti awal.

Tetapi bagi saya, tahun ini Idul Fitri terasa seperti kembali menjadi diri sendiri.

Selama Ramadan, saya sengaja menahan banyak hal.
Sekarang, rasanya sudah waktunya kembali berbicara.

Bukan untuk marah.
Bukan untuk gaduh.
Bukan untuk ikut-ikutan ribut.

Tetapi untuk menyuarakan apa yang memang perlu disuarakan.

Karena diam terlalu lama juga tidak baik.
Karena menahan diri bukan berarti berhenti peduli.
Karena sabar bukan berarti setuju.

Puasa mengajarkan kapan harus menahan.
Lebaran mengingatkan kapan harus bergerak lagi.

Tidak Takut Salah, Selama Tidak Diam

Saya sadar, ketika mulai bersuara lagi, pasti ada yang tidak setuju.
Pasti ada yang menganggap berlebihan.
Pasti ada yang merasa tidak perlu.

Itu biasa.

Dari dulu juga begitu.

Tetapi setelah Ramadan ini, saya merasa lebih tenang.
Lebih tidak tergesa-gesa.
Lebih tidak emosional.

Dan mungkin itu pelajaran paling penting dari puasa tahun ini.

Bahwa bersuara tidak harus marah.
Bahwa mengkritik tidak harus benci.
Bahwa berbeda pendapat tidak harus bermusuhan.

Tetapi juga bahwa kebenaran tetap harus diucapkan.

Kalau tidak sekarang, kapan lagi.
Kalau bukan kita, siapa lagi.

Lebaran, Bukan Akhir dari Latihan

Hari ini Idul Fitri.

Takbir sudah dikumandangkan.
Puasa sudah selesai.
Ramadan sudah pergi.

Tetapi latihan menahan diri seharusnya tidak ikut selesai.

Justru setelah Ramadan, kita diuji lagi.
Apakah kita tetap sabar ketika tidak sedang puasa.
Apakah kita tetap tenang ketika tidak sedang ibadah.
Apakah kita tetap jujur ketika tidak sedang diingatkan setiap hari.

Dan bagi saya, ujian itu mungkin akan datang dalam bentuk yang sama seperti sebelum Ramadan.

Isu yang membingungkan.
Kebijakan yang aneh.
Peristiwa yang menyakitkan.
Dan keadaan yang tidak selalu adil.

Bedanya, sekarang saya tidak ingin diam karena emosi.
Dan tidak ingin berbicara karena marah.

Saya ingin bersuara karena memang perlu.

Setelah Lama, Akhirnya Ingin Lebaran Lagi

Sudah lama saya tidak merasakan ingin segera lebaran.
Dan ternyata, bukan karena saya tidak suka lebaran.

Tetapi karena saya terlalu sering menjalani hidup tanpa jeda.

Ramadan memberi jeda itu.
Menahan diri selama sebulan.
Diam selama sebulan.
Mengingatkan diri selama sebulan.

Dan ketika jeda itu selesai, lebaran terasa seperti napas panjang yang dilepas.

Dulu saya menunggu lebaran karena ingin angpao.
Sekarang saya menunggu lebaran karena ingin kembali menjadi diri sendiri.

Idul Fitri 1447 H datang dengan rasa yang berbeda.

Lebih tenang.
Lebih sadar.
Lebih siap.

Dan mungkin, setelah ini, sudah waktunya kembali menyuarakan kebenaran.
Tanpa takut salah.
Tanpa takut tidak disukai.
Tanpa takut dianggap berbeda.

Karena sekarang sudah tidak puasa.

Kepada para pembaca, sahabat, dan siapa pun yang selama ini mengikuti tulisan-tulisan blog hartono.id,
saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Mohon maaf lahir dan batin,
atas kata-kata yang mungkin terlalu keras,
atas tulisan yang mungkin menyinggung,
atas sikap yang mungkin tidak selalu berkenan.

Semoga setelah Ramadan ini, kita semua menjadi lebih tenang,
lebih sabar,
dan lebih berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang lebih baik.