Ramadan Hari Terakhir: Tentang Anak, Tentang Kesabaran, dan Tentang Negeri yang Tidak Pernah Sepi Ujian

Hari ini adalah hari terakhir Ramadan 1447 H.
Ada perasaan yang selalu sama setiap tahun saat ramadan akan pergi, tetapi tidak pernah benar-benar sama. Campuran antara lega, haru, syukur, dan entah kenapa selalu ada sedikit sedih yang tidak bisa dijelaskan.

Ramadan selalu terasa cepat ketika sudah sampai di ujungnya.

Tahun ini, bagi saya, Ramadan terasa sangat berbeda. Bukan hanya karena ini adalah tahun pertama anak kedua saya, Sultan Shankara, mulai belajar berpuasa. Tetapi juga karena Ramadan kali ini datang di tengah suasana yang tidak benar-benar tenang. Banyak hal terjadi di luar rumah, di luar keluarga, di luar kendali kita sebagai orang tua, sebagai warga, sebagai manusia biasa.

Dan justru di situlah Ramadan terasa paling nyata: ketika kita diminta tetap sabar, sementara keadaan tidak selalu memudahkan untuk bersabar.

Ramadan di Dalam Rumah, Dunia yang Gaduh di Luar

Di dalam rumah, Ramadan berjalan seperti biasanya.
Sahur, bangun lebih awal, kadang masih setengah mengantuk.
Berbuka, dengan menu sederhana, tapi selalu terasa lebih nikmat.
Tarawih, kadang di rumah, sesekali di masjid, kadang tidak sempurna, tapi tetap diusahakan.

Namun di luar rumah, dunia terasa jauh dari kata tenang.

Sepanjang Ramadan ini, berita datang silih berganti.
Program MBG yang carut marut dan membuat banyak orang bertanya-tanya arah kebijakan sebenarnya ke mana.
Rencana Koperasi Desa Merah Putih yang terdengar besar, tetapi menyisakan banyak kegelisahan di lapangan.
Keputusan Indonesia bergabung dengan BOP, yang bagi sebagian orang dianggap langkah strategis, tetapi bagi yang lain justru menambah kekhawatiran.
Belum lagi kabar tentang penyerangan terhadap aktivis KontraS, yang membuat kita kembali diingatkan bahwa keberanian bersuara di negeri ini masih sering harus dibayar mahal.

Dan itu baru sebagian kecil.

Setiap hari, ada saja hal yang membuat hati ingin bereaksi.
Ingin marah.
Ingin berdebat.
Ingin menulis panjang.
Ingin mengomentari semuanya.

Tetapi Ramadan datang, dan seperti biasa, ia mengingatkan:
tidak semua hal harus ditanggapi dengan emosi.

Kadang yang lebih berat bukan menahan lapar, tetapi menahan diri.

Belajar Puasa di Tengah Dunia yang Tidak Sabar

Tahun ini, Sultan Shankara mulai belajar puasa.
Dan saya tidak pernah membayangkan bahwa belajar puasa seorang anak laki-laki bisa terasa begitu mengharukan.

Ia belum puasa penuh.
Kami sepakat sejak awal: cukup setengah hari dulu.
Yang penting bukan kuatnya, tetapi prosesnya.

Dan alhamdulillah, Ramadan pertama ini ia jalani dengan sangat baik.
Setiap hari berhasil puasa setengah hari penuh, tanpa banyak drama.
Kadang menjelang zuhur mulai bertanya,
“Masih lama, Yah?”
Kadang menjelang buka mulai terlihat lelah.
Tetapi ia tetap bertahan.

Saya sadar, yang sedang dilatih bukan hanya perutnya.
Yang sedang dilatih adalah kesadarannya.

Bahwa hidup tidak selalu mengikuti keinginan.
Bahwa ada waktu kita harus menahan.
Bahwa tidak semua yang kita mau harus langsung ada.

Dan di tengah berita yang setiap hari membuat orang dewasa sulit menahan emosi, melihat anak kecil belajar menahan lapar terasa seperti pelajaran yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam.

Aisha dan Fase yang Berbeda

Berbeda dengan Sultan yang baru mulai belajar, Aisha Yumna sudah berada di fase lain.
Sejak masih TK ia sudah terbiasa puasa penuh.
Dan tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, ia menjalani Ramadan tanpa banyak drama.

Full puasa.
Tanpa harus diingatkan.
Tanpa harus dibujuk.
Tanpa harus dipaksa.

Sebagai orang tua, saya justru merasa di fase ini tantangannya berbeda.

Dulu, tugas kami memastikan ia kuat berpuasa.
Sekarang, tugas kami memastikan ia tidak kehilangan makna puasa.

Karena semakin besar anak, semakin mudah ibadah berubah menjadi rutinitas.
Dilakukan, tapi tidak selalu dirasakan.
Dijalani, tapi tidak selalu dimaknai.

Di sinilah saya merasa bahwa Ramadan bukan hanya mendidik anak-anak, tetapi juga mengingatkan orang tua bahwa pendidikan tidak pernah selesai.

Setiap tahun levelnya berubah.

Ibu Rumah Tangga, Ramadan, dan Hal Baru yang Tidak Mudah

Ramadan tahun ini juga berbeda bagi istri saya.

Biasanya, Ramadan baginya identik dengan memikirkan menu sahur, menu berbuka, memastikan dapur tetap hidup, memastikan anak-anak makan cukup, memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya.

Dan itu saja sebenarnya sudah tidak ringan.

Tetapi tahun ini ada tambahan cerita.

Di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, ia mulai belajar hal yang sama sekali baru baginya:
belajar AI,
belajar affiliate,
belajar dunia digital yang sebelumnya terasa sangat jauh.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hal biasa.
Tetapi bagi seorang ibu rumah tangga yang merasa dirinya gaptek, memulai sesuatu yang benar-benar baru bukan perkara mudah.

Saya melihat sendiri bagaimana ia mencoba memahami istilah yang asing, mencoba mengikuti langkah-langkah yang tidak sederhana, mencoba tidak menyerah ketika tidak langsung bisa.

Dan semua itu dilakukan di tengah Ramadan.
Di tengah menyiapkan sahur.
Di tengah menyiapkan berbuka.
Di tengah mengurus rumah.
Di tengah mendampingi anak belajar puasa.

Di situlah saya merasa, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang keberanian untuk tetap bertumbuh.

Kadang perjuangan tidak terlihat di luar.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Tetapi tetap dijalani.

Dan mungkin justru itu bentuk kesabaran yang paling nyata.

Ramadan dan Ujian Menahan Diri

Kalau ditanya, apa yang paling terasa di Ramadan tahun ini, jawabannya bukan lapar, bukan haus, bukan kurang tidur.

Yang paling terasa adalah banyaknya hal yang membuat kita ingin bereaksi.

Setiap hari ada berita yang memancing emosi.
Setiap hari ada kebijakan yang membuat orang bertanya-tanya.
Setiap hari ada peristiwa yang membuat kita ingin ikut bersuara.

Dan di tengah semua itu, kita sedang berpuasa.

Puasa bukan hanya menahan makan.
Puasa adalah menahan respon.

Menahan komentar yang sebenarnya ingin ditulis.
Menahan kemarahan yang sebenarnya ingin diluapkan.
Menahan kekecewaan yang sebenarnya ingin diteriakkan.

Ramadan tahun ini seperti latihan kesabaran yang lebih nyata.

Bukan hanya sabar di dalam rumah.
Tetapi sabar sebagai warga negara.

Hari Terakhir, dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan

Hari terakhir Ramadan selalu aneh.

Di satu sisi, lega.
Di sisi lain, ada rasa kehilangan.

Ramadan pertama Sultan berjalan lancar.
Full puasa setengah hari, hampir tanpa drama.

Aisha seperti biasanya, puasa penuh tanpa banyak cerita.

Istri saya menjalani Ramadan dengan cerita baru, belajar hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dan saya sendiri belajar bahwa sabar itu bukan teori, tetapi latihan yang harus diulang setiap hari.

Ramadan tahun ini tidak tenang.
Tidak ringan.
Tidak sederhana.

Tetapi justru karena itu, terasa sangat bermakna.

Selamat tinggal Ramadan 1447 H.
Terima kasih sudah datang.