Tentang Waktu yang Tak Pernah Kembali
Ada masa dalam hidup ketika saya merasa waktu berjalan terlalu lambat.
Masa kecil, misalnya. Hari-hari terasa panjang, seolah satu minggu bisa menampung begitu banyak cerita — berlari di halaman, menunggu hujan reda, mendengar ibu memanggil untuk makan malam. Saat itu, saya tak pernah berpikir bahwa waktu adalah sesuatu yang akan saya kejar mati-matian di masa depan.
Kini, saya tahu — waktu tidak pernah benar-benar berjalan lambat.
Sayalah yang dulu hidup lebih penuh.
![]() |
| Tentang Waktu |
1. Hidup yang Terlalu Cepat
Suatu pagi, saya bangun dengan kepala yang masih berat. Notifikasi sudah berdenting sebelum mata benar-benar terbuka. Email menunggu balasan, pesan kerja menumpuk, dan di luar, suara lalu lintas seperti pengingat bahwa dunia tidak akan berhenti menunggu saya.
Saya duduk, menyalakan layar laptop, menyesap kopi tanpa rasa, lalu tenggelam dalam tugas demi tugas. Ketika akhirnya menatap jam, hari sudah petang. Waktu terasa seperti pasir yang lolos di sela-sela jari — tidak bisa digenggam, hanya bisa disesali setelah hilang.
Saya tidak sendiri.
Kita semua hidup di zaman yang mengukur nilai diri dari seberapa cepat kita merespons pesan, seberapa banyak yang bisa kita capai dalam satu hari. Kita berlomba, bukan karena kita tahu ke mana arah lomba itu, tapi karena semua orang tampak berlari.
Kita menjadi generasi yang cepat dalam segala hal — kecuali dalam hal menikmati.
2. Tentang Momen yang Terlambat Disadari
Beberapa waktu lalu, saya pulang ke rumah orang tua.
Rumah itu masih sama, hanya penghuninya yang mulai menua. Rambut ayah lebih putih, langkah ibu lebih pelan. Namun yang paling membuat saya terpaku bukan perubahan mereka — melainkan kesadaran bahwa saya jarang benar-benar hadir di sana.
Dulu, setiap kali pulang, saya masih sempat duduk di teras, mendengar cerita mereka tentang tetangga, menertawakan hal-hal remeh, atau sekadar diam menikmati senja. Tapi kali ini, saya malah lebih sering menunduk ke layar ponsel. Menyelesaikan “sedikit pekerjaan” yang katanya penting.
Lalu saya sadar: waktu bersama mereka bukanlah sesuatu yang bisa dijadwalkan ulang.
Waktu, seperti udara di pagi hari, ada untuk dihirup — bukan untuk ditunda.
Saya menatap ibu yang sedang menyiapkan teh. Tangannya gemetar sedikit saat menuangkan air panas.
Dan di momen itu, tanpa kata, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang tak akan berulang.
3. Dunia yang Tidak Pernah Diam
Ada ironi di dunia modern ini: kita punya teknologi untuk membuat hidup lebih mudah, tapi justru hidup terasa semakin padat.
Kita punya alat untuk menghemat waktu, tapi kita kehilangan waktu untuk diri sendiri.
Dulu, berjalan kaki ke warung terasa biasa. Sekarang, semuanya dikirim.
Dulu, menulis surat membutuhkan waktu dan perasaan. Sekarang, pesan singkat dikirim dalam satu detik — tapi cepat pula hilangnya dari ingatan.
Kita tak lagi hidup, kita menyintas waktu.
Kita menambal hari-hari dengan jadwal, notifikasi, dan target. Padahal, di sela semua itu, ada hal-hal lembut yang diam-diam menunggu untuk diperhatikan: cahaya pagi yang menembus jendela, tawa anak yang tidak sengaja terdengar dari luar, aroma kopi yang baru diseduh.
Namun kita jarang berhenti. Karena di kepala kita, berhenti berarti kalah.
4. Tentang Keheningan yang Hilang
Pernahkah kamu sadar, bahwa kita hampir tidak punya keheningan lagi?
Bahkan saat sendirian, kita tetap mencari suara: musik, video, podcast, apapun yang bisa menutupi sepi.
Padahal keheningan bukan musuh, melainkan ruang di mana kita bisa mendengar diri sendiri.
Dalam diam, kita bisa bertanya — apakah aku benar-benar bahagia, atau hanya sibuk agar tampak bahagia?
Saya pernah mencoba sehari tanpa membuka media sosial. Hasilnya aneh: di awal terasa gelisah, seakan kehilangan arah. Tapi kemudian, setelah beberapa jam, saya mulai mendengar sesuatu yang selama ini tertimbun — suara pikiran saya sendiri. Bukan notifikasi, bukan opini orang lain, tapi bisikan kecil dari dalam diri yang sering saya abaikan.
Keheningan ternyata bukan kekosongan, tapi rumah.
Dan saya sadar, sudah lama saya tidak pulang.
5. Ketika Kecepatan Menghapus Kedalaman
Dunia modern membuat kita berpikir bahwa “lebih cepat” selalu berarti “lebih baik.”
Kita membaca cepat, makan cepat, bahkan mencintai pun cepat — takut tertinggal, takut kehilangan kesempatan. Tapi dengan kecepatan itu, kita kehilangan kedalaman.
Percakapan jadi sekadar tukar informasi, bukan lagi pertukaran jiwa.
Pekerjaan jadi rutinitas tanpa makna.
Perjalanan jadi konten, bukan pengalaman.
Kita melompat dari satu hal ke hal lain tanpa sempat tenggelam dalam keindahan yang sederhana.
Padahal makna sering bersembunyi di jeda — di sela langkah, di napas yang kita tarik sebelum menjawab, di tawa kecil di antara dua kalimat serius.
6. Belajar dari Mereka yang Pelan
Saya punya teman yang bekerja sebagai pengrajin kayu.
Setiap kali saya berkunjung ke bengkelnya, waktu seolah berhenti. Ia tidak pernah tergesa. Kayu di tangannya diukur, diampelas, dihaluskan satu per satu.
Saya pernah bertanya, “Kenapa tidak pakai mesin saja? Lebih cepat.”
Ia tersenyum, “Kalau terlalu cepat, saya tidak sempat jatuh cinta pada prosesnya.”
Kalimat itu menancap.
Saya pulang sambil berpikir: mungkin itulah yang hilang dari hidup modern — kemampuan untuk mencintai proses. Kita ingin hasil, bukan perjalanan. Ingin sampai, tapi lupa menikmati jalan.
Padahal hidup bukanlah serangkaian tujuan, melainkan tarian antara waktu dan kesadaran.
7. Anak Kecil dan Jam Tangan
Beberapa waktu lalu, saya melihat anak kecil bermain di taman. Ia tidak membawa apa-apa, hanya sebatang ranting dan imajinasinya. Ia tampak begitu bahagia, seolah dunia di sekitarnya cukup untuk membuatnya lupa waktu.
Di pergelangan tangannya tidak ada jam.
Dan mungkin justru karena itu, ia benar-benar hidup di sekarang.
Saya menatap jam di tangan saya — simbol kedewasaan, katanya.
Tapi kadang saya pikir, jam tangan bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda bahwa kita mulai mengukur hidup dengan angka, bukan rasa.
Kita menghitung hari, tapi lupa menghayati detik.
Dan semakin sering saya menatap jam, semakin saya sadar: waktu tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan.
8. Waktu yang Kita Habiskan Tanpa Sadar
Jika seseorang bertanya, “Ke mana perginya waktumu tahun lalu?” — saya mungkin akan menjawab: “Bekerja.”
Tapi kalau ditanya lagi, “Apa yang kamu rasakan selama itu?” — saya mungkin terdiam.
Karena jujur saja, sebagian besar waktu saya tidak diingat, hanya dilewati.
Hari berganti dengan pola yang sama: bangun, bekerja, menatap layar, tidur, dan mengulang.
Saya hidup, tapi tidak benar-benar hadir.
Mungkin inilah bentuk kehilangan terbesar manusia modern: bukan kehilangan uang, bukan kehilangan kesempatan, tapi kehilangan momen yang sebenarnya sedang dijalani.
Kita sibuk merekam segalanya, tapi jarang benar-benar mengalami.
Kita memotret matahari terbenam, tapi lupa menatapnya tanpa layar.
9. Pelan Bukan Berarti Tertinggal
Ada ketakutan besar di zaman ini: takut tertinggal.
Kita takut terlihat tidak produktif, tidak relevan, tidak ikut arus.
Padahal pelan bukan berarti tertinggal.
Ada keindahan dalam langkah yang lambat — karena di sanalah kita sempat melihat detail yang dilewatkan orang lain.
Kita bisa mendengar suara hati, bisa menikmati aroma tanah setelah hujan, bisa benar-benar menatap orang yang kita cintai tanpa terganggu oleh layar.
Pelan bukan lawan dari maju.
Pelan adalah bentuk penghormatan pada waktu — pada hidup yang terlalu berharga untuk dilewati terburu-buru.
10. Menghadirkan Diri di Setiap Detik
Saya mulai belajar untuk hadir — meski tidak selalu berhasil.
Menyeduh kopi tanpa membuka ponsel. Menulis tanpa memikirkan siapa yang akan membaca. Menemani orang tua tanpa ingin buru-buru pulang.
Hal-hal kecil seperti itu ternyata menumbuhkan rasa damai.
Karena ketika kita benar-benar hadir, waktu tidak terasa hilang — ia terasa penuh.
Kita tidak bisa memperlambat waktu, tapi kita bisa memperdalam cara kita mengalaminya.
Kita tidak bisa mengulang masa lalu, tapi kita bisa membuat masa kini berarti.
11. Waktu dan Rasa Syukur
Ada satu kebiasaan baru yang saya mulai: setiap malam, saya menuliskan satu hal yang membuat saya bersyukur hari itu.
Kadang sesederhana “mendengar tawa anak tetangga,” atau “teh buatan ibu terasa pas,” atau “menyelesaikan satu pekerjaan dengan hati tenang.”
Awalnya terasa remeh. Tapi lama-lama, saya sadar: menulis rasa syukur adalah cara memperlambat waktu.
Setiap kata adalah jeda.
Dan dalam jeda itu, saya menemukan kembali makna hari yang tadinya terasa biasa.
12. Waktu Tidak Kembali, Tapi Bisa Dihargai
Waktu memang tidak bisa kembali. Tapi bukan berarti ia hilang begitu saja.
Waktu meninggalkan jejak — pada wajah orang tua yang mulai berkerut, pada tawa anak yang tumbuh, pada kenangan yang kita simpan diam-diam di sudut hati.
Kita tidak bisa memintanya ulang, tapi kita bisa mengubah cara memaknainya.
Mungkin itu satu-satunya cara kita “mengembalikan” waktu: dengan belajar menghargai setiap detik yang masih ada.
Bukan dengan mengejar lebih banyak, tapi dengan merasa cukup.
Bukan dengan ingin sampai lebih cepat, tapi dengan menikmati perjalanan.
13. Epilog: Tentang Hidup yang Tak Perlu Dikejar
Hidup bukanlah balapan. Ia lebih mirip lagu.
Ada tempo cepat, ada bagian pelan, ada hening di antaranya.
Dan justru dalam keheningan itu, makna sering bersembunyi.
Kita tidak harus memenangkan hidup, kita hanya perlu mengalaminya sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang penting — tapi seberapa dalam kita hadir di waktu yang kita punya.
Waktu memang tak pernah kembali, tapi selama kita masih mampu menghargainya, kita tak pernah benar-benar kehilangan apa-apa.

Gabung dalam percakapan