Ada masa ketika menjadi orang tua terasa sederhana: cukup memastikan anak
makan, belajar, dan tidur tepat waktu.
Namun kini, di era digital, menjadi orang tua seperti berjalan di atas papan
keseimbangan — antara memberi kebebasan dan menjaga arah, antara mengikuti
zaman dan mempertahankan nilai.
Saya sering berpikir, bagaimana mungkin anak-anak zaman sekarang hidup di
dunia yang begitu cepat?
Setiap hari, mereka dikelilingi layar — televisi, tablet, ponsel, bahkan jam
tangan mereka pun bisa terkoneksi internet.
Sementara saya, yang tumbuh dengan radio dan buku pelajaran bergambar hitam
putih, kadang merasa seperti tamu di rumah teknologi.
|
|
Tantangan di Era Digital
|
Perubahan yang Terlalu Cepat
Dulu, orang tua menjadi sumber utama pengetahuan.
Kini, anak-anak bisa belajar apa pun dari YouTube, dari tokoh-tokoh yang
bahkan belum tentu kita kenal.
Mereka bisa menanyakan “bagaimana cara membuat robot” dan mendapat jawaban
lebih cepat daripada guru mereka menjelaskan.
Kadang saya merasa tertinggal.
Anak pertama saya, misalnya, pernah menunjukkan cara menggunakan fitur baru di
aplikasi video call — dengan sabar, seperti guru kecil yang sedang mengajari
muridnya.
Dan saya tertawa, sambil menyadari satu hal penting:
peran orang tua kini bukan lagi pengajar utama, tapi pembimbing
nilai.
Teknologi mungkin lebih pintar dari kita, tapi hati anak-anak tetap memerlukan
arah — dan itulah wilayah yang tidak bisa digantikan algoritma.
Kebingungan yang Nyata
Menjadi orang tua di era digital adalah tentang menghadapi kebingungan
sehari-hari.
Kapan anak boleh punya ponsel?
Berapa lama mereka boleh menonton?
Bolehkah bermain game online kalau teman-temannya semua melakukannya?
Setiap keputusan seperti ujian kecil — salah langkah sedikit, dampaknya
panjang.
Terlalu ketat, anak bisa merasa tertekan dan memberontak.
Terlalu longgar, mereka bisa tenggelam dalam dunia digital tanpa batas.
Saya pernah mencoba melarang total penggunaan gadget selama seminggu.
Hasilnya? Rumah justru penuh konflik.
Anak pertama menangis karena merasa dikucilkan dari pergaulan sekolah,
sementara saya justru merasa bersalah karena tak memberi ruang adaptasi.
Dari situ saya belajar bahwa
mendidik anak di era digital bukan soal melarang, tapi mengarahkan.
Dan untuk mengarahkan, kita sendiri harus tahu arah itu ke mana.
Kelelahan yang Tak Terucap
Ada jenis lelah yang hanya dimengerti oleh para orang tua zaman ini — lelah
menghadapi notifikasi yang tak berhenti, lelah membandingkan anak sendiri
dengan anak orang lain di media sosial, lelah mencari keseimbangan antara
kerja, layar, dan waktu bersama keluarga.
Kita hidup di masa di mana teknologi menjanjikan kemudahan, tapi justru sering
menciptakan jarak.
Di meja makan, semua orang hadir secara fisik, tapi pikirannya terpecah — satu
melihat pesan grup sekolah, satu lagi menonton video pendek, sementara anak
kecil memegang tablet di pangkuan.
Kadang saya ingin mematikan semua perangkat dan kembali ke masa ketika
percakapan adalah satu-satunya hiburan.
Tapi saya tahu, itu bukan solusi. Dunia tidak akan mundur. Yang bisa kita
lakukan hanyalah belajar hidup lebih bijak di dalamnya.
Teknologi: Musuh atau Sekutu?
Saya tidak ingin membenci teknologi.
Saya hanya ingin menggunakannya dengan sadar.
Saya ingin anak-anak tahu bahwa internet bisa menjadi taman belajar yang luar
biasa, asal kita tahu batasnya.
Karena itu, saya belajar untuk tidak sekadar membatasi, tapi
mengajak mereka berdialog.
Saya tanya, “Video seperti apa yang kamu suka tonton?”
Saya dengarkan, tanpa langsung menghakimi.
Saya ajak bicara tentang apa yang mereka lihat, siapa yang mereka ikuti, dan
kenapa mereka menyukainya.
Percakapan semacam itu sering membuka banyak hal.
Ternyata, anak-anak bukan sekadar mencari hiburan — mereka mencari identitas,
mencari makna, mencari tempat untuk didengar.
Dan di situlah peran orang tua diuji: mampu atau tidak kita hadir bukan
sebagai pengawas, tapi sebagai sahabat yang bisa dipercaya?
Kesenjangan Generasi
Ada jarak yang tak bisa dihindari antara generasi kita dan mereka.
Kita belajar berhitung dengan kertas, mereka dengan layar sentuh.
Kita menulis surat cinta di buku harian, mereka menulis pesan dalam hitungan
detik.
Namun di balik semua perbedaan itu, ada satu hal yang tetap sama:
kebutuhan akan kasih sayang dan kehadiran.
Anak-anak mungkin hidup di dunia digital, tapi mereka tetap manusia yang butuh
pelukan nyata, tatapan hangat, dan waktu tanpa distraksi.
Saya menyadari, teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan hal-hal
sederhana seperti itu.
Dan mungkin, tugas terbesar orang tua hari ini adalah menjaga agar hal-hal
sederhana itu tidak hilang.
Menata Ulang Peran Orang Tua
Jika dulu kita merasa tugas orang tua adalah mengontrol, kini mungkin saatnya
kita belajar untuk mendampingi.
Menjadi teman belajar, bukan hanya pemberi perintah.
Menjadi penuntun arah, bukan penjaga pagar.
Saya mulai percaya bahwa tantangan terbesar bukan pada dunia digital itu
sendiri, tapi pada kemampuan kita menata ulang cara berpikir.
Apakah kita mau terus bertahan dengan cara lama — atau mau tumbuh bersama
anak-anak dalam dunia baru ini?
Karena, seperti yang saya alami sendiri, anak-anak adalah cermin yang jujur.
Mereka akan meniru cara kita menggunakan teknologi, cara kita bicara, cara
kita marah, bahkan cara kita mencintai.
Dan jika kita ingin mereka tumbuh dengan nilai yang kuat, maka kuncinya
sederhana: kita harus menjadi contoh yang hidup.
Belajar Ulang Menjadi Orang Tua
Saya sering berpikir, mungkin sebenarnya anak-anaklah yang sedang mendidik
kita.
Mereka memaksa kita untuk belajar ulang — tentang kesabaran, tentang
mendengarkan, tentang cara berpikir terbuka.
Anak pertama saya mengajarkan bahwa rasa ingin tahu adalah bahan bakar terbaik
untuk belajar.
Anak kedua mengingatkan saya bahwa cinta tidak pernah bisa digantikan oleh
teknologi.
Dan dari keduanya, saya belajar bahwa menjadi orang tua di era digital bukan
tentang memenangkan perdebatan dengan algoritma, tapi tentang menjaga agar
hati tetap manusiawi di tengah semua kecerdasan buatan.
Penutup
Zaman memang berubah cepat, tapi nilai-nilai dasar tetap sama: kasih sayang,
keteladanan, dan kehadiran yang nyata.
Teknologi boleh berkembang, tapi tanggung jawab sebagai orang tua tetap tak
tergantikan.
Menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh nilai dan masa depan yang penuh
kemungkinan.
Dan di tengah segala perubahan ini, saya percaya satu hal:
setiap klik, setiap obrolan, setiap keputusan kecil dalam keluarga — semuanya
sedang membentuk masa depan anak-anak kita.
Gabung dalam percakapan