Sekolah yang Tidak Didirikan: Tentang Kebebasan Belajar dan Tanggung Jawab Diri
Setelah menulis tentang makna pendidikan dan tentang guru yang tak pernah bernama, saya semakin yakin bahwa belajar sejati tidak pernah benar-benar selesai — karena ia tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi di sepanjang perjalanan hidup.
Ada satu kalimat yang lama saya simpan dari seorang Profesor di kampus saya dahulu:
“Sekolah terbaik adalah yang tidak perlu didirikan, karena ia hidup di dalam diri setiap orang yang ingin tumbuh.”
Kalimat itu sederhana, tapi terus bergema. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukanlah gedung, kurikulum, atau seragam — melainkan kesadaran yang tumbuh dari dalam. Kesadaran untuk mencari, memahami, dan memperbaiki diri.
![]() |
| Kebebasan Belajar |
Ketika Sekolah Menjadi Simbol, Bukan Esensi
Saya tumbuh di masa di mana sekolah dianggap satu-satunya jalan menuju masa depan. Orang tua bekerja keras agar anaknya bisa sekolah tinggi. Gelar akademik menjadi ukuran keberhasilan. Dan di banyak tempat, pendidikan direduksi menjadi lomba menghafal, mengejar nilai, dan memenuhi target.
Namun seiring waktu, saya mulai melihat bahwa banyak orang yang “berpendidikan” tetapi kehilangan rasa ingin tahu. Mereka pandai menjawab, tapi jarang bertanya. Mereka tahu rumus, tapi kehilangan rasa kagum terhadap kehidupan.
Di sisi lain, saya juga bertemu orang-orang yang tidak pernah kuliah, bahkan tidak lulus sekolah, tapi bijaksana dalam cara berpikir dan berperilaku. Mereka belajar dari kehidupan, dari kerja keras, dari alam, dari orang lain, dari kesalahan — dan mereka melakukannya dengan kerendahan hati.
Dari situlah saya belajar bahwa sekolah sejati bukan tentang bangunan, tapi tentang kesediaan untuk terus belajar. Dan itu tidak membutuhkan izin dari siapa pun.
Belajar yang Membebaskan
Saya aktif mengajar di sebuah lembaga kursus bahasa di Kampung Inggris — lembaga Pare-Dise, dan di sana saya melihat sesuatu yang sederhana tapi mendalam. Banyak anak datang dari berbagai kota, dengan latar belakang berbeda-beda. Ada yang gagal kuliah, ada yang sedang mencari arah hidup, ada pula yang sekadar ingin belajar bahasa Inggris sambil menenangkan diri.
Di sana saya menyadari: belajar yang sejati adalah belajar yang membebaskan. Bukan membebaskan dari disiplin, tapi dari ketakutan. Ketakutan salah. Ketakutan tidak sempurna. Ketakutan untuk menjadi berbeda.
Kebebasan belajar tidak berarti tanpa arah, justru sebaliknya — ia lahir dari rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita bebas memilih apa yang ingin kita pelajari, tapi kita juga harus siap menanggung akibat dari pilihan itu. Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya.
Karena pada akhirnya, tidak ada guru yang lebih sabar dari kehidupan, dan tidak ada sekolah yang lebih luas dari pengalaman.
Homeschooling dan Sekolah Kehidupan
Beberapa tahun lalu, saya mencoba pendekatan homeschooling untuk anak saya. Bukan karena ingin melawan sistem, tapi karena ingin mengenalkan satu hal yang sering terlupakan: bahwa belajar tidak selalu harus duduk di bangku, menyalin papan tulis, dan menghafal halaman demi halaman buku.
Saya ingin anak saya mengenal dunia bukan dari teori, tapi dari kehidupan itu sendiri — dari berinteraksi, berbuat, gagal, mencoba lagi, dan menemukan makna di setiap prosesnya.
Dalam perjalanan itu, saya belajar lebih banyak dari yang saya kira. Saya belajar bahwa menjadi orang tua adalah menjadi fasilitator, bukan pengendali. Bahwa anak-anak bukan wadah kosong yang harus diisi, tapi benih yang perlu dirawat agar tumbuh sesuai kodratnya.
Dan saya menyadari sesuatu yang sangat penting: setiap anak belajar dengan caranya sendiri, dengan waktunya sendiri, dan dengan dunianya sendiri. Tidak ada satu sistem pun yang bisa benar-benar menampung seluruh keunikan itu.
Maka sekolah yang tidak didirikan bukanlah utopia. Ia bisa hadir dalam keseharian — di meja makan, di kebun belakang rumah, di perjalanan, atau bahkan dalam percakapan sederhana sebelum tidur. Yang dibutuhkan hanya satu hal: kesadaran untuk belajar dari apa pun yang ada di depan mata.
Belajar dari Kesalahan, Bukan Hanya dari Buku
Saya sering bertemu orang yang menilai pendidikan dari seberapa banyak ia tahu. Tapi semakin saya hidup, semakin saya sadar bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan kesombongan baru.
Kesalahan, kegagalan, dan pengalaman pahit — semua itu adalah bab penting dalam kurikulum kehidupan. Kita belajar kesabaran dari penantian. Belajar kejujuran dari rasa bersalah. Belajar kasih dari kehilangan.
Tidak ada guru yang bisa mengajarkan semua itu dengan metode atau silabus. Hanya kehidupan yang bisa. Dan di situlah letak kebebasan belajar yang sejati: kita tidak harus takut gagal, karena gagal pun adalah bentuk pembelajaran.
Pendidikan yang membebaskan bukan yang menjauhkan kita dari kesalahan, tapi yang mengajarkan cara memaknai kesalahan itu sendiri.
Tanggung Jawab Diri: Inti dari Kebebasan Belajar
Kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kekacauan. Begitu pula dalam belajar. Banyak orang ingin bebas memilih jalan hidupnya, tapi tidak siap menanggung konsekuensinya. Padahal inti dari kebebasan belajar adalah kemampuan untuk mengelola diri — bukan hanya melakukan apa yang kita mau, tapi juga memahami kenapa kita melakukannya.
Di sinilah pentingnya tanggung jawab diri. Belajar mandiri tidak berarti belajar sendirian. Ia berarti berani mengambil keputusan, berani menilai diri, dan berani memperbaiki kesalahan tanpa harus disuruh.
Dalam konteks pendidikan, tanggung jawab diri adalah kemampuan untuk terus tumbuh, bahkan ketika tidak ada yang menilai. Ia adalah kesadaran bahwa pengetahuan bukan untuk pamer, tapi untuk hidup dengan lebih bermakna.
Sekolah Kehidupan: Di Mana Semua Orang Adalah Murid dan Guru
Kadang saya berpikir, mungkin dunia ini sebenarnya satu sekolah besar. Setiap orang yang kita temui adalah guru dengan pelajaran yang berbeda-beda. Ada yang mengajarkan sabar, ada yang mengajarkan batas, ada yang mengajarkan arti kehilangan.
Dan kita sendiri pun, tanpa sadar, menjadi guru bagi orang lain — melalui cara kita bekerja, bersikap, dan memperlakukan sesama.
Sekolah kehidupan tidak butuh ijazah, tapi membutuhkan kejujuran untuk belajar. Tidak ada kelulusan, karena prosesnya tidak pernah berakhir. Dan nilai tertingginya bukan angka, melainkan makna.
Refleksi: Pendidikan yang Menumbuhkan Manusia
Ketika saya menulis ini, saya tidak sedang ingin menolak sekolah, guru, atau sistem pendidikan. Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa pendidikan sejati selalu berawal dari dalam — dari kesadaran, dari rasa ingin tahu, dari cinta terhadap proses belajar itu sendiri.
Sekolah, dalam bentuk apa pun, hanyalah alat. Tapi manusia, dengan pikirannya, hatinya, dan pengalaman hidupnya, adalah pusat dari pendidikan itu sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika dunia semakin canggih dan informasi semakin mudah diakses, kita akan kembali pada kesadaran yang sederhana ini: bahwa pendidikan bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling terus mau belajar.
Karena pada akhirnya, sekolah yang paling indah adalah sekolah yang tidak didirikan — sekolah yang hidup dalam diri kita, yang mengajarkan bahwa belajar adalah bagian dari menjadi manusia.

Gabung dalam percakapan