Mendidik Anak Laki-laki di Usia Dini: Antara Kasih dan Ketegasan
Ada yang berbeda ketika mendidik anak laki-laki di usia dini. Apalagi kalau usianya baru dua tahun — masa di mana dunia baginya masih penuh warna, tawa, dan rasa ingin tahu tanpa batas. Anak kedua saya, si kecil yang baru belajar menggabungkan kata menjadi kalimat, adalah cermin kecil dari keajaiban itu. Ia polos, tapi juga keras kepala; lembut, tapi tak jarang menantang batas kesabaran kami sebagai orang tua.
Setiap pagi, ia berlari ke arah saya sambil membawa mainan truknya yang entah sudah berapa kali rusak disambung-sambung. “Ayah, liat! Bisa jalan lagi!” katanya penuh bangga. Dalam momen sederhana seperti itu, saya sering merenung — betapa luar biasanya semangat seorang anak kecil. Ia belum mengenal istilah menyerah. Ia belajar dengan cara paling alami: mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Dan di situlah, saya belajar kembali arti sebenarnya dari mendidik: bukan tentang mengendalikan, tapi menuntun; bukan tentang memberi aturan kaku, tapi membangun arah yang penuh kasih.
![]() |
| Mendidik Anak Laki-Laki |
Kasih Sayang yang Tidak Lembek
Banyak orang berpikir kasih sayang berarti selalu menuruti keinginan anak. Padahal, di usia dua tahun, anak justru sedang butuh batasan — bukan sebagai bentuk pengekangan, tapi sebagai pagar agar ia tahu di mana aman dan di mana bahaya.
Kasih tanpa arah bisa membuat anak tumbuh tanpa kendali. Tapi ketegasan tanpa kasih justru bisa mematikan jiwa mudanya. Di antara dua kutub itulah, peran orang tua diuji setiap hari — menyeimbangkan kelembutan dan ketegasan dengan penuh kesadaran.
Keteladanan yang Lebih Nyata dari Kata
Saya sering tersenyum sendiri ketika melihat bagaimana ia meniru hal-hal kecil dari saya. Cara saya duduk, cara saya menutup pintu, bahkan cara saya memegang gelas. Kadang lucu, kadang membuat saya tersadar: ternyata anak tidak banyak mendengar, tapi sangat jeli melihat.
Kalau saya ingin ia belajar sopan santun, maka saya harus lebih dulu memperlihatkannya — bukan sekadar mengatakannya. Kalau saya ingin ia tumbuh sabar, maka kesabaran saya yang pertama kali akan diuji. Ia bukan mendengarkan ceramah, tapi mengamati perilaku.
Dari situlah saya semakin yakin, bahwa orang tua bukan hanya pengajar — tapi contoh hidup yang nyata. Setiap tindakan kecil adalah pesan yang tertanam dalam diam.
Belajar dengan Bermain
Di usia dua tahun, belajar tidak datang dari buku, tapi dari permainan. Kami sering bermain di halaman belakang, kadang sekadar menggambar di pasir atau membuat bentuk dari batu dan daun. Dari situ, saya melihat kecerdasan yang tumbuh bukan karena dijejali, tapi karena diberi ruang bereksplorasi.
Saya percaya, anak-anak belajar paling baik ketika mereka bahagia. Maka tugas saya bukan sekadar mengajar, tapi menciptakan suasana di mana belajar menjadi bagian dari hidup. Kadang lewat tawa, kadang lewat cerita sebelum tidur.
Dan yang menarik, setiap kali saya berusaha mengajarkan sesuatu padanya — misalnya mengenal warna, menghitung, atau menunggu giliran — saya selalu menemukan bahwa sebenarnya sayalah yang sedang belajar. Belajar mendidik anak di era digital, belajar sabar, belajar hadir sepenuhnya, belajar menikmati proses kecil yang sering terlewat oleh orang dewasa.
Antara Kasih, Ketegasan, dan Keteladanan
Mendidik anak laki-laki di usia dini bukan tentang membuatnya patuh, tapi menumbuhkan karakternya. Ia butuh figur yang kuat, tapi juga hati yang hangat. Ia perlu tahu bahwa cinta bukan berarti bebas tanpa batas, dan aturan bukan berarti kehilangan kelembutan.
Saya tidak ingin ia tumbuh menjadi anak yang takut pada ayahnya. Saya ingin ia merasa aman, tapi juga menghormati. Saya ingin ia tahu bahwa setiap keputusan yang saya ambil bukan karena ingin menguasai, tapi karena ingin melindungi.
Dalam proses itu, saya sadar: anak laki-laki perlu sosok ayah yang hadir — bukan hanya di rumah, tapi juga dalam hatinya.
Menanam Karakter Sejak Sekarang
Banyak orang berkata, “Nanti kalau sudah besar, baru dia akan mengerti.” Tapi saya percaya, benih itu harus ditanam sejak dini. Bahkan sebelum anak mengerti logika, ia sudah bisa merasakan pola: bagaimana ia diperlakukan, bagaimana ia ditenangkan, bagaimana ia dihargai.
Saya ingin anak saya tumbuh dengan kesadaran bahwa menjadi laki-laki bukan hanya soal keberanian, tapi juga empati. Bahwa tanggung jawab tidak harus keras, tapi bisa juga lembut. Bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk pelukan, bukan hanya perlindungan.
Dan semua itu — kasih, ketegasan, dan keteladanan — adalah pelajaran yang saya sendiri masih terus pelajari setiap hari.
Penutup
Kini, setiap kali melihat anak kedua saya tidur pulas setelah hari panjang yang penuh tawa dan tangis kecil, saya selalu merasa haru. Tidak ada buku panduan yang benar-benar bisa mempersiapkan kita menjadi orang tua. Tapi ada satu hal yang saya yakini: selama kita mau hadir dengan cinta dan kesadaran, anak-anak kita akan tumbuh dengan arah yang baik.
Mendidik anak laki-laki di usia dini memang bukan perkara mudah. Tapi di sanalah, saya belajar arti sebenarnya menjadi ayah — bukan yang sempurna, tapi yang terus belajar.
Dan mungkin, seperti yang selalu saya temukan di setiap perjalanan menjadi orang tua, sesungguhnya mereka yang kecil itu bukan hanya sedang belajar dari kita — tapi juga sedang mendidik kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Gabung dalam percakapan