Ada satu hal yang semakin saya sadari seiring waktu:
anak-anak tidak benar-benar mendengarkan nasihat kita — mereka menirunya.
Kita boleh berbicara panjang lebar tentang disiplin, tanggung jawab, atau kejujuran, tapi jika dalam keseharian kita tidak melakukannya, semua kata itu akan hilang begitu saja.
Dalam dunia yang serba digital, di mana informasi datang dari segala arah, suara orang tua sering kalah oleh notifikasi di layar. Namun,
keteladanan masih punya kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma apa pun. |
| Role Model |
Ketika Anak Melihat, Bukan Mendengar
Saya pernah mendapati anak pertama saya menegur adiknya, “Adik, habis main beresin dulu, ya. Jangan ditinggal.”
Nada suaranya lembut, tapi tegas — persis seperti yang sering saya ucapkan padanya.
Di saat seperti itu, saya merasa seperti sedang bercermin.
Bukan karena saya bangga nasihat saya diingat, tapi karena saya sadar: anak meniru, bukan menghafal.
Anak-anak memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan kita anggap sepele — cara kita berbicara pada orang lain, bagaimana kita bersabar saat kecewa, bagaimana kita bereaksi ketika lelah.
Mereka mungkin belum mengerti maknanya, tapi mereka sedang menyerap semuanya tanpa kita sadari.
Tentang Integritas yang Diajarkan Lewat Kebiasaan
Saya tidak ingin anak-anak saya hanya tahu arti “jujur” dari buku pelajaran.
Saya ingin mereka melihat bagaimana kejujuran bekerja dalam kehidupan sehari-hari — ketika saya mengakui kesalahan, ketika saya menepati janji, ketika saya menolak jalan pintas yang tidak benar meski terlihat lebih mudah.
Pernah suatu kali, anak saya bertanya kenapa saya tidak jadi membeli sesuatu yang sudah saya pesan online. Saya jelaskan bahwa ternyata barangnya tidak sesuai deskripsi, dan saya memilih untuk menulis ulasan apa adanya.
Dia lalu berkata, “Berarti Ayah nggak mau bohong, ya?”
Saya tersenyum. “Iya, karena kejujuran itu bukan cuma soal benar atau salah, tapi soal bisa dipercaya.”
Dari situ saya tahu, pelajaran tentang integritas tidak perlu dibuat serius. Ia hidup dalam tindakan kecil, dalam konsistensi antara kata dan perbuatan.
Kebiasaan Sehari-hari: Sekolah yang Tak Pernah Libur
Dalam artikel sebelumnya saya menulis tentang mengenalkan investasi sejak dini — tentang sabar dan tanggung jawab. Tapi nilai-nilai itu sejatinya juga tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Misalnya, setiap pagi anak pertama saya terbiasa menyiapkan meja belajarnya sendiri. Bukan karena disuruh, tapi karena sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Atau ketika kami selesai makan malam, mereka membantu membereskan meja, meski kadang hanya memindahkan sendok dengan canggung.
Kebiasaan kecil seperti ini, jika dilakukan terus-menerus, menjadi pondasi karakter.
Dan seperti yang saya pelajari, kebiasaan anak-anak hampir selalu merupakan cerminan dari kebiasaan orang tuanya.
Jika saya ingin anak-anak saya disiplin, maka saya pun harus menepati waktu.
Jika saya ingin mereka gemar membaca, maka saya harus lebih sering terlihat membaca daripada sekadar menyuruh mereka melakukannya.
Karena dalam rumah, anak tidak belajar dari perintah, tapi dari contoh.
Tentang Konsistensi: Bahasa yang Paling Dipahami Anak
Bagi anak-anak, konsistensi adalah bentuk cinta yang paling nyata.
Mereka merasa aman ketika tahu orang tuanya dapat diprediksi — bahwa aturan tidak berubah sesuai suasana hati, bahwa janji ditepati, bahwa kata-kata orang tuanya bisa dipercaya.
Tidak mudah, tentu saja.
Saya pun kadang tergoda untuk menyerah pada kelelahan — membiarkan mereka menonton lebih lama dari biasanya, atau mengabaikan jadwal belajar yang seharusnya.
Tapi setiap kali saya melanggar sendiri aturan yang saya buat, saya tahu sedang mengirim pesan yang salah: bahwa disiplin bisa dinegosiasikan.
Maka saya belajar untuk menyeimbangkan: menjadi tegas tanpa kehilangan kelembutan, menjadi fleksibel tanpa kehilangan arah.
Anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi mereka butuh orang tua yang konsisten — karena dari situ, mereka belajar arti kestabilan.
Role Model di Era Digital
Menjadi teladan di era digital punya tantangan tersendiri.
Ketika anak melihat kita lebih sering memegang ponsel daripada berbicara langsung, mereka belajar bahwa layar lebih penting dari tatapan mata.
Karena itu, saya mencoba menetapkan waktu “bebas gawai” di rumah.
Bukan aturan yang kaku, tapi komitmen bersama: makan malam tanpa ponsel, waktu bermain tanpa gangguan notifikasi.
Anak pertama saya kadang mengingatkan, “Yah, hp-nya ditaruh dulu.”
Dan saya bersyukur ketika itu terjadi, karena berarti ia sedang belajar mengingatkan — bukan karena dia takut, tapi karena ia peduli.
Role model yang baik tidak harus selalu sempurna.
Terkadang, justru ketika kita mengakui kesalahan — “Maaf ya, tadi Ayah terlalu sibuk” — anak-anak belajar tentang kerendahan hati dan keberanian untuk berubah.
Keteladanan yang Tumbuh dari Kejujuran
Anak-anak akan lebih menghargai kejujuran daripada kepura-puraan.
Mereka tahu ketika kita marah tapi berpura-pura tenang, tahu ketika kita kecewa tapi tidak mau mengakuinya.
Dan di situlah kejujuran emosional menjadi bagian dari teladan hidup.
Saya ingin anak-anak tahu bahwa menjadi orang dewasa bukan berarti selalu kuat, tapi berani mengakui kelemahan tanpa kehilangan arah.
Bahwa gagal itu wajar, asalkan kita tidak berhenti mencoba.
Bahwa meminta maaf tidak membuat kita lemah, justru membuat kita manusiawi.
Karena sejatinya, anak-anak tidak sedang meniru versi sempurna dari kita — mereka sedang belajar dari versi kita yang nyata.
Anak Belajar dari Kehidupan yang Kita Jalani
Jika artikel sebelumnya berjudul
menabung bitcoin berbicara tentang bagaimana anak belajar mengelola uang dan waktu, maka kali ini tentang
bagaimana mereka belajar mengelola diri — lewat keteladanan orang tuanya.
Mendidik anak tidak pernah berhenti pada kata-kata; ia berlanjut pada sikap, kebiasaan, dan cara kita menjalani hari.
Anak pertama saya pernah berkata dengan polos,
“Yah, aku pengin kayak Ayah kalau besar nanti.”
Kalimat itu sederhana, tapi menjadi pengingat yang sangat kuat: bahwa setiap hari saya sedang menulis contoh — bukan di papan tulis, tapi di kehidupan nyata.
Dan saya ingin, saat mereka dewasa nanti, mereka tidak hanya mengingat apa yang saya ajarkan, tapi juga bagaimana saya menjalani apa yang saya ajarkan.
Gabung dalam percakapan